Shalom,
Disaat kita memiliki pasangan, dan ketika kita tanya kepadanya, "apa sebabnya kamu cinta kepada saya?"
Jika ternyata dia menjawab "saya cinta kamu karena kamu kaya, karena kamu suka traktir, karena kamu suka memberikan banyak hal yang kuminta" tentu kita akan sedih karena ternyata cintanya dia tidak tulus. Bukan mencintai pribadi kita, tetapi mencintai pemberian kita. Jika suatu saat kita stop memberi, kemungkinan besar dia tidak akan mencintai kita lagi.
Pernahkah kita sadari ternyata banyak dari kita berlaku sama disaat kita mencintai Tuhan?
Kita on fire disaat kita diberkati Tuhan. Disaat segala jalan Tuhan dinyatakan, kita bisa berkata "ku mau cinta Yesus selamanya". Kita terus giat mencari Tuhan, karena berkatNya dicurahkan. Tetapi disaat berkat itu kelihatan sulit didapatkan, dan banyak kejadian yang tidak enak diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita, apakah kita masih bisa berkata "kumau cinta Yesus selamanya"?
"katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut."
( Ayub 1:21-22 )
Sahabatku, mari kita introspeksi diri, apakah kita tulus cinta pribadi Tuhan atau kita hanya cinta berkat-berkatNya?
Mari kita belajar seperti ayub, disaat semua yang dia miliki diambil sama Tuhan, dia tidak menyalahkan Tuhan dan tetap mengucap syukur. Bahkan saat ayub sendiri pun sakit, istrinya menyuruh menghujat Tuhan, ayub tidak lakukan dan tetap menerima keadaannya.
Mari kita belajar memiliki cinta yang murni kepada Tuhan. Sehingga apapun keadaan yang kita alami tidak akan pernah merubah rasa cinta kita kepadaNya. Semakin hari semakin cinta Tuhan Yesus dengan tulus bukan karena berkatNya.
Tuhan Yesus Kristus memberkatimu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar