Tampilkan postingan dengan label KESAKSIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESAKSIAN. Tampilkan semua postingan

Iman Ahok Kepada Tuhan Yesus Kristus

Basuki Tjahaja Purnama - Gubernur DKI Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama – Gubernur DKI Jakarta

Pada suatu hari, seorang wartawan bertanya kepada seorang karyawan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “ Bapak mendukung Ahok atau mendukung DPRD DKI?

Bapak tersebut langsung menjawab; “saya mendukung Ahok (Basuki Tjahaja Purnama)”. Lalu dia menambahkan; “ Cuma satu hal yang saya tidak suka dengan dia (Ahok). Congornya itu lho yang nggak bisa dijaga!” “Hampir setiap hari marah-marah di kantor.” Katanya.

Congor adalah bahasa kasar dari etnis Jawa untuk menyebut mulut seseorang saat berkata-kata. Lebih sering digunakan pada hewan seperti sapi (congor/cingur).

Wartawan itu kemudian menimpali: “Ahok marah dan memaki seperti itu pasti ada sebabnya. Kalau tidak ada sebabnya, mengapa dia harus marah?. Karyawan Provinsi DKI Jakarta itu tidak bisa menjawab.

“Saya tidak peduli jika DPRD akan memakzulkan saya, sebab bagi saya mendengar suara hati nurani lebih penting daripada mendengar suara DPRD. Bagi saya jabatan bukan segala-galanya.” kata Ahok

Ucapan Ahok yang tanpa basa basi itu beberapa hari belakangan ini kembali berkumandang ke penjuru nusantara Indonesia, mungkin juga dunia setelah ia “bertengkar” dengan DPRD DKI Jakarta gara-gara ia mendapati ada dana siluman Rp 12,1 triliun dalam RAPBD 2015 yang disisipkan oleh para anggota DPRD.

Kita tidak membahas detail hal-hal yang menjadi pertengkarang antara Ahok dan DPRD DKI Jakarta , karena saya yakin semua saudara pasti sudah tahu masalahnya. Dengan banyaknya media yang memberitakan masalah ini, beruntung bagi kita semua rakyat Indonesia dapat mengetahui sedikit demi sedikit mengenai permasalahan antara “pribadi” (Ahok) melawan “lembaga” (DPRD DKI Jakarta) ini.

Apakah Ahok terlalu lebay? Mencari sensasi? Mencari popularitas melalu pencitraan? Saya rasa tidak, karena semua orang sudah kenal siapa Ahok dan bagaimana karakter Ahok itu.

Lalu mengapa “congor” Ahok lantang mengecam para wakil rakyat? Dalam kasus itu, nurani Ahok yang bermain. Sejak awal, nuraninya mengatakan bahwa proyek Rp 12,1 triliun (yang disisipkan ke APBD) itu memang tidak masuk akal alias akal-akalan menurut Ahok.

“Yang paling jelas sajalah, kamu tahu UPS, kan Rp 4,9 miliar. Harga genset paling gede saja Rp 150 juta. Ini apa-apaan ini? Daripada Rp 12,1 triliun habis buat beli barang-barang gila begitu, lebih baik saya pertaruhkan posisi saya sebagai gubernur. Kita lihat saja siapa yang masuk penjara nanti?,” kata Ahok.
Ahok Puyeng Artikel Kristen
Banyak orang tak habis pikir mengapa Ahok berani berbicara keras kepada siapa pun, termasuk kepada DPRD yang posisinya sejajar? Mengapa dia rela mempertaruhkan jabatannya sebagai gubernur, sehingga dalam berbagai kesempatan, dia selalu mengatakan: “Dicopot jadi gubernur pun saya tidak jadi soal.”

Koran Media Indonesia yang mewawancarainya beberapa hari yang lalu, dia mengatakan: “Saya tidak peduli jika DPRD akan memakzulkan saya, sebab bagi saya mendengar suara hati nurani lebih penting daripada mendengar suara DPRD. Bagi saya jabatan bukan segala-galanya.”

Dalam masalah ini, tampaknya Ahok akan terus mempertahankan prinsipnya, bahwa dia tidak akan berkompromi dengan penyelewengan yang ada disekitarnya. Sikap Teguh ini sepertinya didasari oleh imannya sebagai pengikut Kristus yang harus berani menunjukkan kebenaran meskipun berisiko mati sekalipun.

Kita tentu masih ingat, saat dia diwawancara oleh Najwa Sihab dalam acara Mata Najwa di Metro TV beberapa waktu lalu, dia mengungkapkan bahwa dia dan keluarganya siap mati. Iman Kristen menuntunnya untuk berani mengatakan bahwa “mati adalah sebuah keuntungan”.

Ahok merujuk pada ayat di Alkitab di Filipi:21:
“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Teladan Kristus yang akhirnya mati di salib karena menegakkan kebenaran meskipun sebelumnya menanggung resiko dibenci, dicaci, disiksa dan diadili secara tidak adil oleh orang-orang yang merasa dirinya paling suci dan bersih (kaum farisi dan ahli taurat).
Matius 5:37: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
Ayat diatas rupanya sudah menjadi prinsip hidupnya sehingga dia (Ahok) berani lantang berbicara dan tidak sudi berkompromi untuk hal-hal yang menyimpang.

Melalui imannya, Ahok lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia, sehingga ia tidak mau masuk ke wilayah abu-abu antara “ya” dan “tidak”.

Dilatarbelakangi iman seperti itulah Ahok siap dan rela tidak menjadi gubernur daripada berkompromi dengan kenajisan (korupsi mencuri uang rakyat). “Tidak apa-apa saya dimakzulkan asalkan tidak mencuri uang rakyat. Sebagai gubernur saya harus mengamankan uang rakyat,” katanya.

“Saya tidak peduli jika DPRD akan memakzulkan saya, sebab bagi saya mendengar suara hati nurani lebih penting dari pada mendengar suara DPRD. Bagi saya jabatan bukan segala-galanya.”

Kita tidak tahu bagaimana akhir dari perseteruan ini, siapa yang bakal menang, akan mencerminkan hukum yang sebenar-benarnya yang ada di negara kita. Saudara pasti bisa menilai sendiri.

Jika memang akhirnya nanti Ahok harus kalah (dimakzulkan DPRD lewat hak angket) dan dia harus melepaskan jabatannya sebagai gubernur, saya yakin Pak Ahok tetap konsisten dengan imannya dan seperti kata Tuhan Yesus saat disalib: “Ampuni mereka ya Bapa, sebab mereka tidak tahu apa yang dilakukannya.”

Saya harap dia mengucapkan dengan tidak marah, dengan lemah lembut, karena penyebab marah-marahnya sudah tidak menjadi tanggung jawabnya. Saya rasa Pak Ahok telah lulus ujian iman. Dan saya yakin dia akan dikenang dalam sejarah bangsa Indonesia.
Ahok Artikel Kristen
Mari kita renungkan saudara, sang teladan telah bersikap dan memberi contoh yang luar biasa sebagai orang Kristen, sebagai pengikut Kristus sejati, yang telah selesai dengan dirinya sendiri, yang tidak menaruh sayang dan cinta akan jabatannya. Rela berkorban demi orang banyak.

Mungkin kita tidak mempunyai posisi atau jabatan seperti Pak Ahok. Tapi esensi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari kita adalah sama saja. Selalu ada ruang untuk kita mengamalkan ajaran Kristus dan meneladani sikapNya.

Beranikah kita mengatakan YA atas sesuai yang benar dan TIDAK atas sesuatu yang salah tanpa kompromi?

Beranikah kita kehilangan jabatan kita, harta kita atau kehormatan kita demi mewujudkan kebenaran?

Tuhan memberkati saudara. Salam kasih.

Sumber: artikel kristen
Read More »

Kisah Nyata Kesaksian Pdt Samuel Irwan

Lesu aku karena mengeluh, setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.
(Mazmur 6:7)

Yaah…. air mata identik dengan masalah, kesesakan dan kesedihan hati. Kita sering mengasosiasikan orang yang sedang menangis sebagai orang yang sedang menderita, walaupun ada juga air mata bahagia…, karena saking terharunya atas suatu peristiwa yang membahagiakan hati. Tapi memang lebih banyak air mata keluar dikarenakan penderitaan.

Bani Korah menuliskan mazmur yang menunjukkan kesesakan hatinya, Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku, “Di mana Allahmu?”
(Mazmur 42:4a)
sampai-sampai air mata terus mengalir tiada henti-hentinya… Masyarakat sering menganggap orang yang mudah menangis adalah orang yang lemah hati, bahkan ada ajaran tak tertulis “Anak laki-laki sejak kecil harus diajarkan tidak boleh menunjukkan air matanya di depan orang lain”, karena terkesan lemah dan tidak jantan…

Sampai suatu hari untuk pertama kalinya…. yaaah untuk pertama kalinya saya menyadari, ‘betapa beruntungnya saya masih punya air mata’. Betapa beruntungnya teman-teman , karena teman-teman masih bisa menangis…..
A MAN WITHOUT TEARS

Suatu kesaksian yang mengharu-biru dari Pdt Samuel Irwan. Beliau pernah terkena penyakit kulit maha dahsyat yang sekarang meninggalkan jejak di matanya. Tidak bisa menangis lagi karena kelenjar air matanya sudah mampet akibat penyakit yang dialaminya. Melihat penampilan beliau ketika berkotbah, sepintas tidak ada perbedaan dengan orang lain pada umumnya, kecuali mata yang kelihatan agak basah …

Menelusuri kesaksiaannya, jelas sekali panggilan beliau adalah sebagai hamba Tuhan. Samuel Irwan, sejak umur 14 tahun sudah melayani Tuhan, dan setahun kemudian sudah menjadi pengkhotbah cilik. Setamat SMA, Samuel Irwan melanjutkan pendidikan di Sekolah Theologia STT Tawangmangu.
Di sekolah inilah Samuel Irwan mengalami pembentukan karakter lebih lagi, dan sebelum lulus Samuel Irwan bernazar, kelak akan melayani Tuhan sepenuh waktu, di manapun Tuhan akan mengutus dan menempatkannya.
TEMPAT MULAI MENJALANI NAZAR

Setelah lulus dari STT Tawangmangu, tahun 1993 Samuel Irwan menjalani masa praktek dan ditempatkan di Kecamatan Mangkupalas, Samarinda, Kalimantan Timur. Di tempat inilah ia mulai menjalani kehidupan sebagai hamba Tuhan sepenuh waktu. Semua dijalani dengan sukacita dan penuh semangat walaupun harus meninggalkan kehidupan nyaman di Surabaya dan menjalani kehidupan yang berat di Kalimantan dengan persembahan kasih yang sangat kecil. Hanya Rp 80.000 per bulan. Tinggal di rumah yang sangat sederhana, banyak tikus berkeliaran, mengepel rumah, mencuci pakaian dan piring di parit, membersihkan gereja, melayani sebagai pengerja di gereja adalah kegiatan yang dijalaninya hari demi hari. Tidak terasa sudah dijalani selama 2 tahun.
MERALAT NAZAR

“Bagaimana saya bisa berumah tangga dengan kehidupan ekonomi yang minim seperti ini?
Mana ada yang mau jadi istri saya?
Mana ada orang tua yang mau memberikan anak perempuannya kepada saya?
Bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya?”

Berbagai pertanyaan dan keluhan mulai menyesakkan hatinya di tengah-tengah kerinduan untuk mulai membina rumah tangga. Dan hatinya memang sudah mulai terpaut dengan seorang gadis cantik yang dikenalnya di pertandingan vocal group di sebuah gereja di Samarinda. Samuel Irwan mulai memikirkan untuk tidak lagi menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu. Apalagi banyak testi anak-anak Tuhan yang sukses dalam pekerjaan tapi juga tetap setia melayani Tuhan, membuat ia memutuskan berhenti jadi fulltimer dan mulai melamar pekerjaan sekuler. Ketika gembala sidang bertanya tentang nazarnya, Samuel Irwan berkata,“Saya meralat nazar saya.” Airmata dan perkataan gembala sidang, “Gereja memang nggak bisa memberikan gaji besar, tapi Tuhan mampu pelihara hidupmu…..” tidak mampu menghentikan tekad Samuel Irwan untuk berhenti jadi fulltimergereja.

Berbekal ijazah SMA, kemampuan komputer dan Inggris, tahun 1995, Samuel Irwan diterima bekerja di sebuah perusahaan kayu. Benar-benar mulai dari posisi bawah , hanya sebagai operator radio. Karena keuletannya dalam bekerja dan kemampuannya di bidang komputer, hanya dalam waktu 5 bulan ia diangkat menjadi kepala produksi log di perusahaan kayu itu. Berkat finansial mulai mengalir dengan deras sehingga bisa mengontrak rumah, membeli perabotan, sepeda motor membuatnya yakin berada di trackyang benar.

Menikah dengan Erna S. Tjandra, di tahun 1996 dan dikaruniakan seorang putri setahun berikutnya membuat kebahagiannya semakin lengkap. Kedudukan tinggi di perusahaan, punya istri, anak, rumah, kendaraan.
What else could make him happier?
Kalau dulu saat ingin bekerja di dunia sekuler, Samuel Irwan berkata kepada Tuhan, akan melayani Tuhan sambil bekerja, sekarang keinginan melayani sudah tidak prioritas lagi. Peringatan dari hamba-hamba Tuhan yang mengingatkan akan nazarnya tidak diindahkan. Sampai…….
STEVENS-JOHNSON SYNDROM (SJS)

2 Januari 1998, Samuel Irwan merasakan keluhan masuk angin, demam, tenggorokan sakit dan mata merah. Sepertinya sakit biasa. Berobat ke dokter mata, dan diberikan paracetamol untuk menurunkan demam. Keesokan harinya, ternyata demam tidak kunjung turun juga, malah mulai timbul bintik-bintik merah pada lengannya. Telapak tangan dan kaki terasa sakit dan nyeri jika memegang atau menginjak suatu benda keras.

Berinisiatif sendiri untuk pergi ke dokter umum dan diresepkan obat pembunuh virus Zoter 400mg karena menurut diagnosa dokter ia terkena infeksi virus ditambah dengan obat penurun panas. Samuel tidak menceritakan kepada dokter umum itu bahwa ia juga diberi beberapa jenis obat oleh dokter mata. Selain itu ia juga membeli beberapa obat flu bebas dan jamu, apa saja yang menurut pengetahuannya bisa menyembuhkan gejala-gejala yang dialaminya. Setibanya di rumah, Samuel Irwan meminum semua obat dari kedua dokter tersebut, ditambah obat bebas yang dibeli sendiri, semua dengan dosis yang tertulis, karena ingin cepat sembuh.

Akibatnya sungguh mengerikan karena mencampur sendiri beberapa jenis obat tersebut. Bintik-bintik merah itu mulai melepuh dan gosong, dan mulai merambat sampai ke dada, tengkuk, leher, muka dan kondisi mata semakin memburuk, semakin merah. Kerongkongan, rongga mulut dan lidah juga melepuh. Tidak cukup sampai di situ, kondisi ini semakin tambah parah karena di kulit seperti ada air dan nanah yang membusuk.

Dirujuk ke RS di Samarinda, 7 Januari 1998 Samuel Irwan menjalani rawat inap. Salah seorang anggota tim dokter yang menangani, seorang dokter kulit mengatakan bahwa Samuel Irwan mengidap penyakit Stevens-Johnson Syndrome (SJS) stadium 3. Kondisi tubuh Samuel Irwan saat itu seperti orang yang terkena luka bakar 80%. Semua bagian tubuh tidak ada yang terluput; melepuh, gosong, dan bernanah, dari kepala sampai ujung kaki, kecuali paha dan betis.
DI BATAS AKHIR KEKUATAN

Samuel Irwan mengingat masa itu, “Kalau sedang tidur dengan posisi miring, dan tidak hati-hati dan pelan-pelan menggerakkan wajah ke posisi lain, maka kulit muka akan tercuil dan lengket di seprei. Pediihhh sekali…..” Demam juga tidak kunjung turun, sampai 42 derajat Celcius, sehingga kalau sedang menggigil ranjang bergoncang dengan kerasnya seperti sedang gempa bumi. Harus dimasukkan ke ruang isolasi, bukan karena SJS ini adalah penyakit menular, tetapi karena takut penyakit pasien lain menular kepada Samuel Irwan yang dapat memperburuk keadaannya.

Suatu hari mata yang selalu merah itu seperti kelilipan dan Samuel meminta suster untuk menyiram matanya dengan boorwater. Ketika bangun tidur, bukannya jadi baikan, ternyata malah kedua belah mata jadi putih semua, seperti ditutupi kertas HVS putih. Samuel Irwan sangat marah kepada para dokter dan suster yang merawatnya. Dan juga sangat marah kepada Tuhan, “Tuhaaaan….. saya butuh mata ini untuk bekerja…..” Saat di batas akhir kekuatannya, saat mata tidak lagi bisa dipakai untuk melihat, Samuel Irwan minta pengampunan kepada Tuhan.
HE JUST WANTED ME TO TURN BACK TO HIM

Dokter di Samarinda semuanya sudah angkat tangan dan merujuk Samuel Irwan ke rumah sakit di Surabaya. Malam sebelum keberangkatan ke Surabaya, Samuel Irwan menyadari panggilannya kembali. Ia memanggil gembala sidangnya yang dulu, untuk berdoa minta ampun karena lari dari Tuhan. Saat itu Samuel Irwan berjanji jika Tuhan masih beri kemurahan untuk hidup maka ia akan melayani Tuhan sepenuhnya kembali.

Dengan bantuan seorang gembala GBI di Samarinda, Samuel Irwan dibawa ke Surabaya. Kondisi Samuel saat itu tidak bisa berjalan lagi karena kaki juga melepuh. Saat akan naik tangga pesawat, karena tidak bisa berjalan, seorang portir yang tidak mengetahui penyakitnya, berusaha menolong dengan menggendong Samuel ke kabin pesawat. Gerakan tiba-tiba mengangkat Samuel yang sedang duduk di kursi roda, membuat kulitnya robek tertarik, dan Samuel menjerit keras sekali. Perjalanan yang sangat tidak mudah untuk sebuah harapan kesembuhan.
WALAUPUN TIADA DASAR UNTUK BERHARAP

Tim dokter yang menerima di Surabaya sangat kaget melihat kondisi tubuh Samuel Irwan. Mereka tidak menyangka kondisi Samuel sudah begitu parah sekali. Sebelumnya mereka pernah menangani pasien yang mengidap sakit SJS ini dengan kondisi hanya sepertiga dari kondisi Samuel. Pasien ini akhirnya meninggal dunia, …. apalagi Samuel?

Saat baju dibuka untuk dirontgen, kulit punggung kembali robek. Warna yang putih dipunggung adalah daging yang kelihatan akibat kulit tersobek, dan warna merah adalah darah yang keluar.

Detail hasil rontgen: lambung, pankreas, liver, bagian-bagian dalam tubuh, semuanya rusak. Sehingga diperkirakan Samuel hanya bisa bertahan 3 minggu. Karena sudah menjalani penyakit SJS ini sejak 2 Januari 1998, maka diperkirakan Samuel Irwan hanya bisa bertahan sampai 23 Januari 1998. Sehingga diminta untuk segera menghadirkan istrinya ke Surabaya, membawa anak mereka yang baru berusia 2 bulan.

Seorang dokter kulit lulusan Jerman berkata, kalaupun Samuel bisa sembuh dari penyakit SJS ini, perlu 2 tahun untuk recovery kondisi kulitnya untuk kembali seperti semula. Dokter mata, yang juga lulusan Jerman berkata, kalaupun sembuh, akan buta selamanya, tidak ada lagi harapan untuk mata Samuel.

Tiada dasar untuk berharap, namun Samuel Irwan tetap berharap kepada Tuhan seperti Abraham dalam kitab Roma, Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
(Roma 4:18-21)
“A VIRTUOUS WOMAN’S PRICE IS FAR ABOVE RUBIES”

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya?
Ia lebih berharga dari pada permata.
(Amsal 31:10)

Ayat ini layak ditujukan kepada Erna Tjandra, istri dari Samuel Irwan, yang dengan tekun merawat suaminya. Tidak pernah sekalipun menunjukkan kejijikan kepada suami yang sudah sangat hancur tubuhnya. Dengan kondisi yang sudah sangat berbau busuk dan amis, tidak pernah sekalipun Erna masuk ke ruangan isolasi dengan memakai masker. Tidak pernah sekalipun. Dengan setia ia merawat borok-borok di tubuh Samuel, menyikat gigi Samuel dengan jari-jarinya, membersihkan kotoran di ranjang, semua dilakukan tanpa mengeluh dan selalu tersenyum. Semua dilakukan dengan kasih. She showed us an unconditional love. Tidak terkira impartasi kekuatan yang diberikannya kepada sang suami yang sedang berjuang melawan maut. Erna berkali-kali menguatkan Samuel untuk tetap berharap kepada Tuhan.
PENDERITAAN TAK BERUJUNG ?

Rutinitas pengobatan Samuel setiap hari juga menjadi rutinitas penderitaannya. Tubuh yang sudah melepuh, gosong, bernanah itu setiap hari harus diberi salep dan diperban. Esok paginya perban itu harus diganti. Ketika perban dibuka maka kembali kulitnya sobek dan menempel di perban tsb. Sakit sekali, dan harus dijalani selama 1,5 jam dari pukul 9 pagi sampai 10.30 siang. Setiap hari selama 1,5 jam berteriak-teriak kesakitan. Demikian juga ketika seprei akan diganti. Kembali kulit akan tersobek dan lengket di sprei.

Dukungan dari istri dan pihak keluarga Samuel Irwan sangat besar sekali. Tak henti-hentinya mereka berdoa puasa rantai memohon kemurahan Tuhan untuk menyembuhkan Samuel.

Tapi keadaan Samuel bukannya membaik, malah bertambah parah. Ke 20 kuku di jari-jarinya copot satu persatu, telapak tangan dan kaki menggelembung berisi air, telinga dan hidung melepuh mengeluarkan darah. Berat badan turun dari 68 kg menjadi 43 kg. Sistem reproduksi juga diserang sehingga diperkirakan kalaupun sembuh tidak bisa punya keturunan lagi. Keadaan Samuel bukannya makin sembuh, malah semakin parah.
BERNAZAR LAGI

Samuel kembali berkata, “Tuhan ampuni saya, … kalau saya sembuh, saya akan kembali melayani Engkau sepenuh waktu. Saya akan tinggalkan pekerjaan saya, saya akan bayar nazar saya. Terimalah tubuhku yang sudah busuk ini. Ampuni saya Tuhan….”

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur;
hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina,
ya Allah.
(Mazmur 51:19)

Kalimat di atas dengan tulus dan hancur hati diucapkan seseorang yang pernah berbuat kesalahan dan kemudian kembali kepada Tuhan. Dialah Daud. Sejarah mencatat Tuhan memulihkan Daud. Bagaimana dengan Samuel Irwan?
GOD IS STILL DOING MIRACLE BUSINESS

Banyak orang yang undur imannya saat doa-doanya belum dijawab oleh Tuhan. Tidak percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan, Tuhan sanggup menjawab doa. Tidak demikian dengan Samuel Irwan, beserta seluruh keluarganya. Juga orang-orang yang setia mendoakannya. Mereka begitu percaya kepada Tuhan dan belas kasihanNya,

Tanggal 23 Januari 1998, tanggal dimana Samuel diperkirakan akan meninggal dunia, justru menjadi titik balik dalam proses kesembuhannya. Perawat yang seperti biasa tiap pagi merawat kulit Samuel, dikagetkan melihat kulit Samuel mulai mengering dan sembuh. Kekagetan itu bertambah dengan pertanyaan Samuel, “Suster…., saya ini dirumah sakit Adi Husada Kapasari Surabaya ya ?” Dengan terheran-heran, suster balik bertanya, “Loh….kok bapak tau?”. Lalu Samuel menunjuk dengan jarinya sebuah tulisan berwarna merah yang tertera di sprei kasurnya sambil berkata, ”Ini ada tulisannya”. Suster gembira sekali sambil berlari keluar memanggil dokter mata.

Semua tim dokter yang menangai penyakit SJS ini heran sekali atas apa yang dialami Samuel. Mata bisa sembuh tanpa operasi. Bagian dalam tubuh seperti ginjal, liver, lambung, dll semua sembuh dan normal kemnali. 2 hari kemudian Samuel sudah bisa berjalan kembali, dan proses recovery berjalan dengan cepat. Tidak perlu menunggu sampai 2 tahun untuk kulit Samuel menjadi normal kembali, dan … sembuh tanpa operasi plastik (!!!) Penyakit SJS terparah yang pernah ditangani di RS tsb, sembuh total (bahkan kini Samuel Irwan sudah dikaruniai lagi anak perempuan ke 2, tanggal 31 Mei 1999, hanya setahun sesudah mengalami kesembuhan). Tuhan Yesus memang luar biasa. DAHSYAT !!!
MENETESKAN ‘TEAR DROPS’. EVERY 15 MINUTES !

Kulit Samuel Irwan menjadi normal kembali. Tidak ada bercak atau tanda sedikitpun yang menyiratkan bahwa ia pernah disiksa oleh penyakit kulit ganas tsb. Kecuali matanya. Kalaupun dipaksakan untuk mengeluarkan air mata, maka otot kelopak mata atas dan bawah seperti diperas dan terasa sakit sekali. Sehingga mau tidak mau, Samuel harus menggunakan tetes air mata buatan. Saat berkotbah tiap 15 menit sekali Samuel Irwan meneteskan air mata buatan agar matanya tidak kering dan lengket, tapi semua itu tidak menyurutkan semangatnya melayani Tuhan. Obat tetes mata yang digunakan saat ini adalah buatan USA “Refresh Liquidgel” berharga $24 per botol, dan habis digunakan dalam 3 hari saja. Belum lagi karena obat ini harus dipesan dari Singapore, maka total biaya untuk pengganti air mata yang harus disediakan perbulan adalah sebesar Rp 3.000.000,-.
BETAPA MAHALNYA TETESAN AIR MATA !!!

Tidak sedikit uang yang sudah dihabiskan untuk pengobatan mata dan pengadaan air mata buatan.
Selama 12 tahun tidak punya air mata (tahun 1998-2010), biaya yang dihabiskan sudah sekitar 1,6 Milyar.
Hanya untuk air mata !!!
Itu sebabnya di awal tulisan ini saya berkata, berbahagialah kalau masih bisa menangis. Pertama, tingkatan stress bisa diturunkan saat menangis, sehingga kita tidak menjadi depresi. Kedua,tidak perlu bayar M-M an untuk air mata.

Jarak pandang yang hanya sekitar 1 meter, membuat Samuel Irwan harus membawa keker (binocular)saat berada di bandara supaya tidak salah memilih gate dan dan membaca no pesawat.

Ada kesaksian yang luar biasa saat Samuel Irwan sedang berada di Changi, Singapura, sedang transit menunggu pesawat ke Jepang dan Amerika. Seorang polisi India menegur dengan keras mengira Samuel sedang memakai kamera. Dengan tegas ia menegur, “No camera in this airport, sir!”.
Samuel menjelaskan bahwa itu binocular untuk menolong membaca karena matanya tidak bisa membaca jarak jauh. Singkat cerita, Samuel berusaha meyakinkan polisi India tsb dan memperlihatkan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkannya dari penyakit SJS, sambil menunjukkan foto-foto diri saat menderita SJS yang ada dimobile phone nya. Samuel berkata, “Tuhan menyuruh saya ke Jepang dan Amerika untuk memberitakan kebaikanNya. Apakah Bapak bisa menolong saya menunjukkan meja yang harus saya datangi untuk check-in?”

Apa yang terjadi? Polisi itu menangis.
Ia berkata, “Sebelum saya menolong Anda, Anda harus tolong saya.” Ternyata sehari sebelumnya polisi ini bertengkar hebat dengan istrinya dan istrinya minta cerai. Anak mereka juga jadi anak berandalan, tidak bisa dikendalikan. Sebuah rumah tangga yang sangat berantakan. Ia berkata bahwa banyak orang yang menceritakan Yesus sanggup mendamaikan keluarganya, tapi ia pikir semua itu omong kosong. Dan sambil menyentuh tangan Samuel Irwan, polisi itu berkata, “Ini kulit baru, sungguh ini bukti nyata.” Saat itu juga ia minta dibimbing untuk terima Tuhan Yesus. Sesudahnya, saat mengantar Samuel Irwan boarding ia berkata, “I never feel peace like this, … thank you.”
Di kursi pesawat, Samuel Irwan merenung…., “Tuhan….kalau memang mata ini bisa membuat orang yang suka mengeluh menjadi bisa bersyukur, bisa membuat orang berdosa diselamatkan…., mata saya tidak disembuhkan tidak apa-apa Tuhan…, karena saya bersyukur mata ini bisa memuliakan Tuhan….”
MENCERITAKAN KEBAIKAN TUHAN

Melalui semua yang dialaminya, Pdt Samuel Irwan sudah pergi ke berbagai tempat di Indonesia, bahkan melayani sampai ke bangsa-bangsa untuk menceritakan kebaikan Tuhan. Keterbatasan fisik tidak mampu mengurangi semangatnya yang rindu melayani Tuhan dan memberitakan kepada uamatNya bahwa Tuhan itu baik dan kuasaNya maha dahsyat.

Banyak orang yang dijamah Tuhan dan disembuhkan, bukan hanya orang yang sakit secara fisik, tetapi juga orang yang sehat tapi sudah jauh dari Tuhan. Merasakan kembali kasih Tuhan dan mengambil keputusan untuk kembali kepada Tuhan.
“DALAM KELEMAHANKU, KEKUATANNYA DINYATAKAN”

Pernah suatu ketika obat tetes mata sudah habis, sementara pesanan dari Singapura terlambat datang. Ketika botol itu kosong, terjadi mujizat. Setiap kali diteteskan ke mata, obat tsb masih menetes, walaupun kalau botolnya digoncang tidak ada bunyi apa-apa karena memang sudah kosong. Botol kosong itu terus meneteskan air mata buatan setiap kali digunakan, sampai pesanan obat baru dari Singapura datang. Ketika kembali diteteskan, botol kosong tsb tidak mengalirkan apa-apa lagi, karena penggantinya sudah datang.

Jarak pandang yang hanya 1 meter tidak memupuskan semangat Samuel Irwan untuk belajar lagi dan menyelesaikan pendidikan S1 Theologia di STT Duta Panisal Jember. Walaupun saat kuliah harus membawa alat bantu seperti binocular dan kaca pembesar agar bisa membaca lebih jelas. Kegigihannya dan semangat pantang menyerah juga dibuktikan dengan melanjutkan sampai study Magister dibidang Biblical Strata 2, dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Masih belum cukup, seakan berpacu dengan waktu, Samuel Irwan meneruskan study penggembalaan dan penginjilan di Haggai Institute Hawaii USA. Semua dilakukan dalam segala kelemahan yang dimilikinya. Tapi kekuatan Tuhan yang menopangnya, membuat Samuel Irwan mampu melalui semuanya dengan baik.
GOD IS GOOD. ALL THE TIME.

Berbeda-beda interpretasi orang yang mendengarkan kesaksian bapak Pdt Samuel Irwan Santoso,S.Th,MA, yang sejak tahun 2006 hingga sekarang menggembalakan jemaat di GBI Bontang, Kalimantan Timur.

Tapi yang tertanam di hati saya, adalah :

TUHAN ITU BAIK
Bahkan ketika beliau diijinkan mengidap penyakit SJS, di mata saya itu bukanlah penghukuman karena suatu kesalahan. Tapi cara Tuhan untuk membawa beliau kembali kepada panggilanNya. Karena besar kemuliaanNya yang akan Dia tunjukkan kepada kita semua melalui pelayanan beliau.

TUHAN ITU BAIK
Tuhan tidak pernah meninggalkan beliau, bahkan saat berjalan dalam lembah bayang-bayang maut.
Terbukti dari biaya pesawat dan pengobatan ke Surabaya, (saat itu harga-harga obat melambung tinggi karena krisis moneter), semuanya ditanggung seorang pengusaha di Samarinda, yang bukanlah orang percaya, tapi digerakkan hatinya oleh Tuhan untuk memikul beban itu. Juga biaya air mata buatan yang tidak sedikit selama 12 tahun ini, (Milyar….bo’) yang tidak mungkin sanggup dibeli oleh beliau, semua disediakan Tuhan melalui orang yang berbeda-beda yang digerakkan hatinya oleh Tuhan.

TUHAN ITU BAIK
Kalau teman-teman dan saya diijinkan untuk mendengar atau membaca kesaksian ini, pasti karena Tuhan ingin kita lebih bersyukur lagi menjalani hari-hari yang tidak semakin baik ini.
Kalau sedang menangis di hari-hari ini, bersyukurlah, karena semua air mata kita itu gratis dari Tuhan. Bayangkan kalau kita harus bayar Rp 3 juta per bulan hanya untuk air mata?
Dan sekalipun saat ini kita sedang menangis, Tuhan ingin kita semua tahu, bahwa Ia tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Melewati lembah bayang-bayang maut sekalipun, kita tidak takut bahaya, karena Tuhan menyertai kita

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Menolak dan Lari dari Panggilan

Ayat bacaan: Yunus 1:2-3
======================
"Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku. Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN."

Sadar atau tidak, setiap orang punya panggilannya masing-masing. Sebagian orang belum mengetahui panggilannya dan masih mencari tahu, sebagian lagi sudah tahu. Tapi dari yang sudah tahu, hanya sedikit sekali yang menjalankan panggilannya dengan serius dan sepenuh hati. Sebagian lainnya masih sibuk berhitung untung rugi dan biasanya cendrung merasa rugi ketimbang untung. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi uang, rugi ini dan rugi itu. Karenanya mereka menolak dan lari dari panggilan. Menunda hingga waktu yang tidak jelas kapan.

Untuk menjawab panggilan memang tidak mudah. Seringkali kita harus meninggalkan zona kenyamanan kita bahkan mengorbankan sesuatu dan masuk ke dalam situasi sulit. Tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa sebuah panggilan bisa menjadi sebuah titik balik yang bisa mengubahkan hidup kita untuk menapak ke arah yang lebih baik, dan tentu saja mendatangkan kebaikan dan berkat bagi orang lain yang bersentuhan dengan panggilan kita.

Apa yang kita sering lupa adalah bahwa Tuhan tidak menyuruh tanpa mempersiapkan. Tuhan tidak menetapkan panggilan bagi setiap kita tanpa menyediakan segala yang kita butuhkan untuk itu. Dia sudah menaruh berbagai bekal yang harus kita kembangkan dan mempergunakannya untuk menjalankan panggilan. Kalau ada yang masih kurang, Dia pula yang akan mempersiapkan. Dari pengalaman saya pribadi saja, misalnya untuk menulis dan memosting renungan untuk anda yang sudah berjalan selama 7 tahun, saya sudah bisa memberi kesaksian akan hal itu. Saat Tuhan pertama kali menanamkan panggilan itu, saya merasa itu adalah panggilan yang tidak masuk akal. Saya belum lama bertobat dan belum mengetahui apa-apa secara mendalam mengenai kebenaran yang terdapat dalam Alkitab. Beruntunglah anda yang punya kakak rohani, karena saya yang bertobatnya belakangan lewat berbagai pengalaman supranatural Ilahi yang luar biasa tidak berakar dimana-mana dan tidak kenal siapa-siapa pada waktu itu. Lantas diberi 'beban' untuk menulis setiap hari, apa yang mau ditulis jika situasinya seperti itu? Tapi dengan jelas Tuhan menyatakan bahwa yang Dia butuhkan bukanlah kemampuan saya melainkan kemauan. Kerelaan untuk membagi sedikit waktu untuk penyebaran berita gembira dari KerajaanNya buat teman-teman yang surfing di internet.

Saya bisa saja menolak, dan itu rasanya akan lebih masuk akal, tetapi saya memutuskan untuk taat. Saya tidak tahu apakah saya bakal sanggup, ditengah pekerjaan yang menggunung, koneksi yang seringkali tidak bersahabat, dan ketidaktahuan saya secara mendalam tentang firman-firman Tuhan. Tetapi ternyata Tuhan memang mempersiapkan segalanya. Apa yang terjadi memang demikian. Saat Dia menyuruh, Dia menyediakan dan mempersiapkan. 7 tahun dan masih terus berjalan. Yang luar biasa, selama saya aktif menulis, saya mengalami dan menyaksikan begitu banyak mukjizat yang tidak akan mampu terselami akal manusia. Ada banyak orang yang dipulihkan, mengalami kesembuhan dan yang terpenting, masuk ke dalam janji keselamatan. Kredit untuk saya? Tidak. Saya hanya menjalankan panggilan saya, dan bersukacita saat Tuhan bisa menjamah banyak orang lewat panggilan saya. He, Himself that does the work, through us. All He need is our willingness, obedience and faith. Kerelaan, kepatuhan dan iman kita.

So, what should we do if God calls me to do something? Apa yang harus kita lakukan ketika Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu? Menerima dengan sukacita atau malah lari karena merasa tidak sanggup, pemikiran akan berbagai kerugian dan alasan lainnya? Yang Tuan mau sesungguhnya jelas. Tuhan menginginkan kita untuk taat terhadap panggilanNya. Melarikan diri jelas bukan pilihan, karena biar bagaimanapun Tuhan bisa memakai caraNya untuk menundukkan kekerasan orang-orang yang dipilihNya. Bisa dengan cara lembut maupun dengan didikan yang keras. Bicara soal keras, Yunus mengalami hal itu.

Mari kita lanjutkan renungan kemarin dengan mundur ke awal kisahnya. Yunus pada suatu hari mendapatkan panggilan secara spesifik dari Tuhan. "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." (Yunus 1:2). "Niniwe, kota yang penuh orang jahat dan sangat memusuhi bangsa Israel. Jai untuk apa diselamatkan? "Untuk apa aku harus repot-repot menghadapi resiko untuk menyelamatkan kota yang seperti itu?" seperti itulah kira-kira isi pikiran Yunus. Dan lihat, ia memutuskan untuk lari.

Lari dari Tuhan? Apa bisa? Kita mungkin berkata tidak, tapi bukankah kita pun sering kabur dari panggilan kita seperti Yunus? Yunus mengira ia bisa lari dari panggilan Tuhan. Dan inilah yang dilakukan Yunus. "Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN." (ay 3). Ini jadi sebuah pilihan yang gegabah, karena kita tahu ia kemudian mengalami badai besar di tengah perjalanan dan mendarat di dalam perut ikan yang pasti berbau sangat busuk. Bukan hanya satu dua jam, tetapi dikatakan hingga tiga hari tiga malam lamanya. (ay 17). Pada akhirnya Yunus menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain selain harus taat, karena Tuhan akan memakai caraNya baik lembut maupun keras untuk menundukkan orang-orang yang sudah ditetapkan untuk dipilihNya.

Haruskah kita mengalami masalah terlebih dahulu untuk mau menuruti panggilan Tuhan? Perlukah kita terlebih dahulu diberi pelajaran keras supaya bisa taat? Dari Yunus kita bisa belajar bahwa lari dari Tuhan bukanlah solusi. Lari dari panggilan Tuhan tidak akan membuat kita bebas dari perintahNya. Apakah kita memilih untuk menolak dengan tegas atau dengan diam-diam berusaha melepaskan diri dari panggilan Tuhan, kita tidak akan bisa meredam panggilanNya. Selain kita akan hidup tanpa damai sukacita karena gelisah dan merasa bersalah dalam hati, Tuhan secara tegas sudah menyatakan bahwa bukan kita yang memilih Dia, tetapi Dia-lah yang telah memilih kita. "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16). Dari ayat ini jelas terlihat bahwa dibalik panggilanNya yang sudah Dia tetapkan sejak awal, Dia pun telah menyiapkan berkat-berkatNya untuk tercurah pada kita. Sesungguhnya panggilan dari Tuhan merupakan sebuah kehormatan. Paulus mengakui pula hal ini kepada jemaat Galatia. "Tetapi karena kebaikan hati Allah, Ia memilih saya sebelum saya lahir dan memanggil saya untuk melayani Dia." (Galatia 1:15).

Panggilan dari Tuhan adalah sebuah anugerah dan kehormatan yang luar biasa. Mungkin tidak gampang, mungkin berat, mungkin merugikan, tetapi belajarlah taat terhadap panggilanNya. Sebab bukan kuat dan hebatnya kita yang diperlukan, namun kerelaan hati dan kesediaan kita untuk menuruti kehendak Tuhan karena kita mengasihiNya. Kepada Yeremia pun Tuhan mengingatkan: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (Yeremia 1:7-8). Ketika Tuhan menyuruh, sebenarnya Dia sendirilah yang bekerja dengan memakai kita. Tuhan tidak membutuhkan ahli-ahli dan jagoan. Tuhan tidak membutuhkan kekuatan dan kehebatan manusiawi kita. Yang Dia butuhkan adalah orang yang memiliki hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, yang dengan sukacita menuruti panggilanNya. Yunus melakukan hal yang keliru dan ia pun sudah mendapatkan pelajaran yang mahal harganya. Jangan lari dari panggilanNya. Taatlah sejak awal ketika Tuhan menanamkan sesuatu dalam diri anda untuk dikerjakan. Apa yang jadi panggilan anda? Sudahkah anda mengetahuinya dan menjalankannya? Find out your calling and do it the best you can.

Bersyukurlah dan lakukan yang terbaik atas panggilan karena itu merupakan kehormatan besar

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Kisah Super Inspiratif Jessica Cox

Jessica Cox adalah seorang gadis yang terlahir tanpa kedua lengan karena penyakit langka yang diderita ibunya saat mengandung dirinya. Semua pekerjaan yang biasa orang lakukan dengan menggunakan tangan, ia lakukan dengan menggunakan kaki, bahkan melepas kontak lensa pun ia menggunakan kaki. Ia belajar menjadi seorang pilot yang kemudian mendapatkan izin resmi untuk menerbangkan pesawat dengan kedua kakinya. Ia adalah pilot tanpa lengan yang pertama menerbangkan pesawat. "Aku tidak membutuhkan kedua lengan untuk menerbangkan pesawat ke angkasa, aku mempunyai kedua kaki dan itu adalah anugerah yang harus aku manfaatkan sebaik mungkin," kata Jessica.

Kita memang tidak bisa menentukan seperti apa kita lahir, namun kita bisa menentukan untuk hidup seperti apa setelah kita lahir. Alasan mengapa seseorang tidak bisa mengembangkan dirinya menjadi lebih baik adalah karena terlalu lama menangisi kekurangannya. Meratapi kekurangan kita tidak menjadikan kita lebih baik, justru hal itu akan membuat hidup kita terlihat semakin menyedihkan. Tidak ada orang yang sukses hanya karena terus menerus fokus pada kekurangannya. Kalau saja Jessica Cox kecewa, marah dan malu pada dirinya, maka dia tidak akan menjadi seperti dirinya saat ini. Menangisi keterbatasan kita tidak masalah, asalkan kita segera bangkit. Jika kita memandang diri kita sebagai orang cacat, maka orang juga akan memandang kita seperti itu. Tetapi jika kita memandang diri sebagai sosok yang sempurna, maka orang lain akan memandang kita seperti itu.

Selamat hari minggu

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »