Tampilkan postingan dengan label RHO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RHO. Tampilkan semua postingan

Tertawalah (Selagi Masih Bisa?)

Ayat bacaan: Amsal 17:22
===================
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."

"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang." Jargon ini melekat erat pada sebuah grup lawak yang sangat terkenal di akhir 70an sampai dua dekade berikutnya. Mengingat pada masa itu pemerintahan masih bersifat sangat represif yang memperbolehkan pemerintah mengintervensi dan mengangkangi kebebasan orang untuk menyuarakan pendapat, kalimatnya menjadi terdengar sangat relevan sekaligus lucu. Dalam banyak hal di kehidupan nyata, kalimat ini masih agak-agak nyambung juga. Mungkin bukan pakai kata 'dilarang', tapi diganti sedikit dengan 'selagi masih bisa'. Jadi kalimatnya berubah menjadi "Tertawalah selagi masih bisa." Rata-rata manusia akan tertawa saat berada dalam keadaan baik, tapi akan segera kehilangan sukacita yang bisa membuat mereka tertawa lepas saat masalah mulai muncul dalam hidup mereka, bahkan meskipun hanya sedikit atau ringan. Jangankan tertawa, senyum pun berat. Seperti ada pemberat yang digantungkan di kedua ujung bibir sehingga sulit sekali untuk bisa melengkungkan mulut ke arah atas, sebaliknya sangat mudah untuk menekuk ke bawah. Air muka keruh atau murung. Kalau sudah begitu tertawa pun sudah tidak lagi bisa.

Berbagai penelitian medis sejak lama menyatakan bahwa tertawa itu sebenarnya sehat. Tertawa bahkan dipercaya bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan bisa memperpanjang usia. Sebaliknya orang sehat pun lama-lama bisa jatuh sakit jika tidak lagi ada kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya. Tidak satupun penelitian yang menyimpulkan sebaliknya bahwa tertawa itu berbahaya bagi kesehatan. Kita sudah tahu betul akan hal itu, akan tetapi kita seringkali tidak mampu untuk mengatasi berbagai perasaan negatif yang bercokol di dalam kita. Ironisnya, bentuk kehidupan yang keras dan berat membuat kita lebih sering bergumul ketimbang berada dalam keadaan baik. Ketakutan, kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, penderitaan dan sebagainya, itu akan setiap saat sanggup merampas sukacita dari hidup kita dan dengan sendirinya menahan senyum atau tawa untuk terlukis di wajah kita.

Jauh sebelum penelitian-penelitian medis itu dibuat, Alkitab sudah terlebih dahulu menyatakannya. Dalam Amsal kita bisa menemukan itu, dimana tulisannya berasal dari orang yang paling berhikmat di dunia, yaitu Salomo. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). "Happy heart is a good medicine, and a cheerful mind works healing." Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggrisnya dengan lebih rinci. Hati yang gembira itu obat yang manjur atau mujarab, dan pikiran yang bersukacita mendatangkan kesembuhan. Sebaliknya orang yang hatinya murung dikatakan akan mengeringkan tulang, atau mematahkan semangat. Ini sebuah ayat yang mungkin tidak lagi asing bagi kebanyakan dari kita, tetapi sudah sejauh mana kita mengaplikasikannya dalam hidup kita? Atau pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita bagaimana agar hati kita tetap berada dalam kondisi riang?

Kebanyakan orang seringkali keliru menggantungkan letak kegembiraannya. Kita cenderung menganggap bahwa gembira tidaknya kita sangatlah tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami hari per hari. Hati kita pun akan terus berada dalam situasi tidak menentu dan tidak stabil. Sebentar bisa gembira, sebentar bisa sedih. Sebentar tertawa, sebentar lagi menangis. Sekarang senang, tapi kemudian bisa penuh dengan amarah dan lain-lain. Tidakkah kita sering bertemu dengan orang yang mood nya swing, benar-benar tidak stabil? Baru saja tertawa ia bisa marah-marah, lalu menangis dan kemudian tertawa lagi. Mungkin kita sendiri juga seperti itu. Kita menyetir sambil tertawa riang, tiba-tiba ada pengemudi lain yang menyalip dengan sembrono dan seketika itu pula kita terpancing emosi.

Mendasarkan kepada situasi akan membuat hati kita terus berada dalam kondisi tidak stabil, dan itu tidak akan baik buat hati dan hidup kita. Di sisi lain, apakah kemurungan dan perasaan susah tidak akan membantu atau memberikan sesuatu yang baik? Itu tidak akan memberikan apa-apa selain menambah masalah saja. Dan Yesus sudah mengingatkannya sejak lama: "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Kuatir, sedih, murung atau perasaan-perasaan negatif lainnya tidak akan pernah memberi manfaat apapun. Dan apabila kita terus murung, tidaklah heran jika hari-hari yang kita lalui pun terasa buruk semuanya. Jadi bukan soal ada hari baik dan buruk, tapi lebih kepada bagaimana kita memandang hari-hari yang kita jalani. Lihatlah apa yang ditulis dalam Amsal berikut: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta."(Amsal 15:15).

Alkitab pun sudah menyatakan sejak awal bahwa sebuah kebahagiaan sejati seyogyanya tidak tergantung dari situasi dan lingkungan sekitar, melainkan sesungguhnya berasal dari Tuhan. Ada banyak sekali ayat yang sebetulnya menyatakan hal itu untuk kita camkan sungguh-sungguh. Salah satunya berbunyi: "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Sukacita atau kegembiraan yang berasal dari Tuhan pun ternyata mampu menular mempengaruhi orang lain. "Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita."(34:3). Kemana dan dimana kita menggantungkan kebahagiaan hati kita akan sangat menentukan seperti apa kita hari ini. Apakah kebahagiaan, keceriaan, keriangan yang terpancar dari dalam diri kita dan tercermin lewat senyum atau tawa lebar yang bisa membawa suasana senang bagi orang-orang disekitar kita, atau justru kehadiran kita membawa kemuraman dan suasana yang sama sekali tidak enak bagi mereka.

Apa yang anda inginkan untuk terlukis di wajah anda hari ini? The face of rage, anger, sadness, or the smiling face full of joy, happiness and laughter? Ketahuilah bahwa itu tidak tergantung dari kondisi yang tengah dialami, melainkan seberapa besar anda mengizinkan Tuhan berperan dalam hidup anda. Kita bisa memilihnya, bukan hanya diam pasrah membiarkan kondisi hati tidak menentu terombang-ambing dalam berbagai perasaan. Kegembiraan sejati sesungguhnya ada di dalam hubungan erat kita dengan Tuhan dan bukan kepada kondisi faktual kita. Hidup dalam penyertaan Tuhan akan bisa membuat kita tetap ceria dan tertawa meski situasinya sedang tidak kondusif.

Kita bisa melihat bagaimana cara Pemazmur untuk tidak mengizinkan sedikitpun rasa tidak tenteram atau gelisah merampas sukacita dari dirinya. "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram." (Mazmur 16:8-9). Jika demikian, tersenyum dan tertawalah sekarang juga, dan nikmati hidup yang dipenuhi kebahagiaan sejati yang ada pada hidup yang digantungkan kepada Tuhan.

Sulit atau mudahnya tertawa bukan tergantung dari situasi tetapi dari seberapa dekatnya kita dengan Tuhan

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Anggur yang Baik

Ayat bacaan: Yohanes 2:9
=====================
"Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya"

Jika anda melihat kulkas atau pajangan tempat minuman di supermarket maka anda bisa melihat ada begitu banyak jenis dengan harga beragam. Sama-sama air mineral saja yang tanpa rasa bisa berbeda-beda tergantung mereka dan variasi yang ditawarkan. Kalau anda suka teh, kemasan teh dalam botol plastik atau kotak pun ada banyak jenisnya dengan rasa dan harga yang tidak sama. Kopi, rasa buah-buahan punya penggemarnya sendiri. Bagaimana dengan anggur? Tentu harganya akan jauh di atas air putih biasa atau kebanyakan minuman lainnya. Tempat pajangannya pun biasanya berbeda dan tidak semua tempat menjual itu.

Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk kembali melihat kisah ketika Yesus membuat mukjizat untuk pertama kali, yaitu kisah Perkawinan di Kana yang terdapat dalam Yohanes 2:1-11. Kisah ini mengandung begitu banyak pelajaran yang bisa diterapkan dalam berbagai hal, tetapi untuk kali ini mari kita fokus kepada anggur, sebuah mukjizat yang dibuat dari air oleh Yesus.

Dikisahkan pada waktu itu Yesus dan murid-muridNya hadir disana, begitu pula ibu Yesus. Pada saat itu tampaknya tamu yang hadir membludak jauh dari yang diperkirakan, sehingga mereka kehabisan anggur. Kehabisan anggur di sebuah pesta tentu memalukan bagi tuan rumah. Alkitab menggambarkan apa yang ada disana pada waktu itu. "Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung." (Yohanes 2:6). Dua-tiga buyung berarti sekitar 20-30 galon, kira-kira 100 liter air bisa ditampung dalam masing-masing tempayan.

Untunglah ada Yesus hadir disana pada waktu itu. "Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh." (ay 7). Setelah itu, Yesus meminta mereka untuk menyendok air itu dan membawanya kepada pemimpin pesta. (ay 8). Dan inilah yang terjadi. "Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya". (ay 9). Si pemimpin pesta pun terheran-heran. Segera ia memanggil mempelai pria, dan berkata: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."(ay 10). Itu adalah mukjizat awal sebagai permulaan dari pelayanan dan karya penebusan Kristus secara langsung di dunia.

Air biasa diubahkan Kristus untuk menjadi anggur. Bukan sekedar anggur biasa, tapi dikatakan anggur yang baik. (ay 10). Anggur yang baik ini bukan untuk disimpan tapi kemudian dinikmati dan menjadi berkat bagi banyak orang-orang yang hadir disana. Akan sangat jauh tentunya jika yang dihidangkan hanya air putih biasa. Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran penting. Seperti apakah kita saat ini? Apakah kita masih berupa air biasa, air yang sedang dalam proses pemurnian, atau sudah menjadi anggur? Seperti halnya Yesus sanggup mengubah air menjadi anggur, Dia sanggup mengubah kita yang "biasa-biasa" saja untuk menjadi anggur yang baik yang bisa memberkati, membawa sukacita bagi banyak orang.

Bagaimana caranya? Kalau kita baca lagi kisah di atas, kita bisa melihat bahwa awalnya tempayan-tempayan itu disuruh Yesus sendiri untuk diisi dengan air. Ini bisa menjadi gambaran akan pentingnya kita mengisi diri kita secara teratur dengan firman Tuhan yang hidup. Firman Tuhan sungguh penting dalam hidup kita, "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Dan jangan lupa sebelum air diperintahkan Yesus untuk masuk ke tempayan, ada sebuah pesan penting yang disampaikan ibu Yesus. "Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (ay 5). Ya, ketaatan pada Yesus menjadi kunci utama pula. Jadi secara singkat kita bisa melihat bahwa jika kita manusia berada di tangan Yesus, taat kepadaNya dan kemudian mengisi diri kita dengan air yang adalah firman Tuhan, maka kita bisa diubahkan untuk menjadi anggur yang memberkati orang lain.

Proses pengubahan air menjadi anggur bisa jadi tidak menyenangkan. Ada kalanya kita harus mengalami berbagai hal berat dan menyakitkan ketika sedang dibentuk. Namun lewat itulah kita bisa diubahkan Tuhan menjadi anggur berkualitas yang bisa memberkati banyak orang. Hidup kita yang biasa-biasa saja bisa dipakai Tuhan agar mendatangkan banyak manfaat bagi orang lain. Untuk itu kita harus rela ditegur, dikoreksi, diajar atau malah dihajar jika perlu. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, Tuhan bisa pakai itu semua untuk menjadi berkat. Yang dibutuhkan adalah kerelaan kita untuk diubahkan dan dipakai agar menjadi berkat. Ketaatan kita secara penuh, melakukan apa yang Dia perintahkan, lalu mengisi diri kita dengan firman Allah, itulah dasar yang akan mengarahkan kita menjadi anggur berkualitas. Dimanakah posisi kita saat ini? Apakah kita sudah pada posisi anggur atau masih berupa air putih biasa? Mari kita sama-sama terus bertumbuh hingga bisa menjadi anggur baik yang memberkati orang banyak.

Jadilah anggur yang baik yang menjadi berkat bagi orang lain

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Dihukum Tanda Sayang

Ayat bacaan: Ibrani 12:7
========================
"Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?"

Orang tua yang baik akan mendisiplinkan anaknya terlebih pada masa-masa pertumbuhan. Anak kecil biasanya belum begitu paham mana yang baik dan mana yang buruk. Selain itu mereka pun rentan terhadap penyimpangan-penyimpangan kebenaran di luar sana yang kalau tidak hati-hati bisa menjerumuskan mereka kepada berbagai kesesatan dunia. Ada satu cara mendidik yang saya anggap baik dilakukan oleh teman saya terhadap anaknya. Setiap kali anaknya melakukan kesalahan, ia akan menjelaskan terlebih dahulu apa yang salah, kemudian mengingatkan si anak bahwa ia harus dihukum tapi hukuman bukan ditujukan kepadanya melainkan kepada kesalahannya. Si anak tetap menjalani hukuman tapi tidak harus sakit hati. Anaknya tetap dekat dan akrab karena tahu bahwa hukuman bukanlah merugikan melainkan demi kebaikannya sendiri.

Ada banyak anak yang melawan ketika diingatkan dan cepat merasa sakit hati saat harus dihukum. Mereka tidak melihat itu sebagai pelajaran berharga dan menganggap orang tuanya hanya tidak suka mereka bersenang-senang, hanya karena iri atau jahat. Mereka tidak sadar bahwa pada suatu ketika nanti mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang yang tidak disukai perilakunya kalau dibiarkan terus melakukan hal-hal buruk sejak masa kecil. Anak kecil terlahir bagai buku kosong, maka adalah tugas dan tanggung jawab orang tua untuk mengisi hal-hal baik sesuai kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak mereka sejak dini. Kalau didikan orang tua yang terkadang apabila perlu hadir berupa hukuman itu sangat penting, Tuhan sebagai Bapa kita juga perlu mendidik kita anak-anakNya, kalau perlu ada hukuman atau ganjaran yang harus kita terima dengan lapang dada sebagai konsekuensi atas kesalahan kita. Itu bisa terasa menyakitkan, tetapi Tuhan melakukannya bukan karena ingin menyakiti atau bertindak kejam melainkan karena Dia mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa.

Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan berpikir yang terbatas. Ada kalanya kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan, dan kemudian menjadi bingung. Akibat ketidakpahaman ini kita bisa jadi memprotes Tuhan, menganggap Tuhan tidak adil, atau bahkan menyalahkan Tuhan ketika Dia sepertinya mengijinkan hal-hal yang "aneh", yang mungkin memberatkan, untuk terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita merasa berada dalam pihak yang menjadi korban misalnya, terkadang Tuhan malah menyuruh kita untuk memulai perdamaian terlebih dahulu. Ada hal-hal yang secara manusiawi sulit kita terima pada saat-saat tertentu. Ketika Tuhan mendisiplinkan kita, dan itu sakit rasanya, kita pun bisa berteriak dan menganggap Tuhan terlalu keras atau pilih kasih. Ketika Dia menghukum kita, kita menganggap bahwa Tuhan berlaku kasar dan tidak sesuai dengan sosokNya yang penuh kasih. We tend to take everything only according to our thoughts and knowledge. Tapi kita harus tahu bahwa terkadang kita butuh teguran bahkan hukuman, sekali lagi bukan dengan tujuan menyakiti kita, melainkan untuk membangun diri kita agar menjadi layak di hadapanNya, seperti apa yang Dia rindukan bagi kita semua.

Penulis Ibrani melukiskan serangkaian penjelasan mengenai bentuk pendisplinan dan pengajaran Tuhan. "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."(Ibrani 12:5-6). Tuhan menegur kita bukan karena kejam, namun justru karena Dia mengasihi kita. Justru karena kita dianggapNya sebagai anak-anakNya, yang harus diajar agar benar hidupnya, tidak melenceng sana sini. Kalau anak-anak kita yang masih kecil pun harus kita ganjar dengan hukuman sekali waktu, agar mereka bisa belajar dari kesalahannya dan tidak mengulangi lagi, kenapa kita tidak?

Betapa inginnya Tuhan menjadikan kita anak-anakNya yang tidak bercela. "Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (ay 7,8). Bukan saat kita ditegur dan didisplinkan kita harus bersedih, tapi seharusnya kita sedih kalau Tuhan justru tidak menunjukkan teguran apapun dan membiarkan kita terus terseret arus kesesatan semakin jauh dan semakin dalam.

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Kita sering melihat ayat ini dan menganggap bahwa ini adalah ayat yang berbicara hanya soal "kebaikan" menurut pandangan kita, seperti kenyamanan, pertolongan Tuhan, hidup tanpa masalah, limpahan berkat materi dan finansial dan sebagainya. Tapi ingatlah bahwa sebentuk teguran, peringatan atau hukuman, lembut atau keras, semua itupun termasuk hal-hal yang bertujuan untuk mendatangkan kebaikan. Kita ditegur agar lebih baik, kita dimarahi agar tidak terus melakukan kesalahan, kita dihukum agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Itu juga mendatangkan kebaikan. Yang pasti, Tuhan menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak, menghajar anak-anakNya agar menjadi pribadi yang benar, sehingga layak di hadapanNya dan layak menerima janji-janjiNya. Tidak selamanya hidup ini mudah dan menyenangkan.

Ada masa-masa dimana kita harus menangis akibat penderitaan atau kegagalan. Tapi jangan menyerah, jangan putus asa. Yakobus mengingatkan hal ini, dan menganjurkan agar kita merasa beruntung dan tetap bertekun ketika mengalami pencobaan. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4). Jangan mundur, dan jangan sakit hati ketika kita didisplinkan. Bisa jadi ada "masa-masa di padang gurun" yang harus kita lewati agar layak memasuki "tanah terjanji". Malam ini, bersyukurlah atas pergumulan atau permasalahan yang tengah Dia biarkan untuk terjadi dalam kehidupan kita. Tetaplah bertekun hingga memperoleh buah yang matang, hingga anda kembali ke jalur jalan yang benar dan bisa mencapai garis akhir dengan kemenangan yang gilang gemilang. Pada saatnya, anda akan diangkat keluar dan dinyatakan lulus sebagai manusia baru yang telah layak untuk menerima kemuliaan Tuhan.

Bersyukurlah ketika ditegur Tuhan, karena itu tandanya kita dikasihi sebagai anak

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Milik Kristus

Ayat bacaan: Galatia 3:29
==================
"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah."

Sebagian dari anda tentu masih ingat dengan lagu January Christy di tahun 80'an yang berjudul Aku Ini Punya Siapa. Lagu ini dibuat ringan dan jenaka bercerita tentang seorang wanita yang kebingungan karena memiliki kekasih yang matanya jelalatan. Barusan saya mendengar lagu ini dan sebuah pemikiran muncul di benak saya. Sebagai seorang manusia, kita ini sebenarnya punya siapa? Mudah bagi kita untuk berkata bahwa kita punya Kristus, tapi apakah kehidupan kita sudah mencerminkan itu, atau masih dengan jelas tergambar bahwa kita ini milik dunia atau jangan-jangan malah berorientasi ke si jahat? Pertanyaan berikutnya, apa yang akan kita terima kalau kita menjadi milik Kristus?  

Banyak orang menjadi lupa kepada Tuhan ketika sudah menjadi orang sukses, saat mereka mendapat popularitas, kaya raya dan sebagainya. Ada banyak pula yang sampai rela menjual/menggadaikan hak kesulungannya, meninggalkan atau bahkan mencampakkan Tuhan ketika segala yang dianggap dunia sebagai penjamin kemakmuran sudah berhasil diraih. Padahal seharusnya kita menyadari bahwa setiap jengkal keberhasilan kita berasal dari Tuhan, segala anugerahNya, kesempatan yang Dia bukakan dan talenta yang sudah Dia bekali. Kalau begitu sudah selayaknya semua kita persembahkan kembali kepadaNya. Bersyukur bahwa kita milik Kristus, dan semakin giat menunjukkan jatidiri kita sebagai milikNya.

Saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, kita pun menjadi milikNya. Dalam posisi sebagai milikNya, apa saja yang dijanjikan Allah? Sebelum menjawab itu, mari kita berandai-andai sejenak. Bayangkan seandainya anda adalah rakyat jelata lalu diberi kehormatan dengan diangkat anak oleh seorang raja. Itu akan membuat anda otomatis mendapat posisi terhormat dan memperoleh hak-hak sebagai anak raja, termasuk hak untuk menerima warisan. Seperti itu pula yang terjadi saat kita menjadi anak-anak Allah, sebuah status yang kita peroleh dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan percaya dalam namaNya. (Yohanes 1:12). Menerima Kristus, itu artinya kita menjadi milikNya, dan dengan demikian kita pun berhak atas janji Tuhan. Firman Tuhan berkata: "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Galatia 3:29). Ayat ini singkat tetapi mengandung makna yang luar biasa besar. Setiap orang yang menerima Yesus akan menjadi keturunan Abraham, dan oleh karena itu berhak untuk menerima apa yang dijanjikan Allah.

Seperti apa janji yang diberikan Tuhan itu? Tuhan menjanjikan segala kebaikan kepada kita seperti janjiNya yang telah Dia tepati kepada Abraham. Kalau Abraham terbukti menerimanya, janji yang sama diberikan kepada kita. Janji itu diwariskan kepada kita, ketika kita menjadi keturunan Abraham dengan menerima Kristus. Mari kita lihat apa kata Yesaya ratusan tahun sebelumnya."Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari TUHAN! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, dan kepada lobang penggalian batu yang dari padanya kamu tergali. Pandanglah Abraham, bapa leluhurmu, dan Sara yang melahirkan kamu; ketika Abraham seorang diri, Aku memanggil dia, lalu Aku memberkati dan memperbanyak dia. Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti taman Eden dan padang belantaranya seperti taman TUHAN. Di situ terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang nyaring." (Yesaya 51:1-3). Lihatlah bagaimana Tuhan memanggil Abraham ketika ia seorang diri. Tuhan kemudian memberkati dan memberikan keturunan yang banyak. Tuhan memberi penghiburan, kegirangan dan sukacita, Tuhan memeliharanya dan membuat padang gurun menjadi taman Eden dan belantara seperti tamannya Tuhan. Seperti itulah janji Tuhan yang akan diberikan pula kepada semua umat yang menjadi milik Kristus.

Seperti halnya Abraham, kitapun dipanggil untuk memisahkan diri dari segala kesesatan dunia ini. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Itu akan membuat berkat-berkat Tuhan bisa mengalir deras tanpa hambatan dalam kehidupan yang terus meningkat. Kita perlu melepaskan diri dari pengaruh dan kebiasaan serta pola pikir dunia agar bisa menerima segala janji yang telah diberikan Tuhan. Dalam Yesaya 51:3 diatas kita bisa melihat kerinduan Tuhan untuk menghibur dan memulihkan segala sesuatu yang selama ini terbuang atau hancur dari dalam hidup kita. Kekuatan Tuhan sanggup merubah padang gurun yang paling gersang sekalipun untuk menjadi seindah taman Eden, dimana yang terdapat hanyalah kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu puji-pujian yang nyaring. Semua janji ini bisa turun pada kita saat kita menjadi milik Yesus.

Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, percaya kepadaNya, akan membuat kita berhak menerima janji seperti yang diberikan Tuhan kepada Abraham. Selanjutnya tetaplah menjaga setiap langkah agar jangan sampai segala hak yang sudah dianugerahkan kepada kita menjadi lenyap. Anugerah untuk menjadi milik Kristus dan karenanya menerima janji-janji Allah sudah ada pada kita, jangan tergiur oleh apapun sehingga kita tanpa sadar tidak lagi menjadi milik Kristus melainkan milik berbagai penguasa dunia maupun si jahat. Tuhan rindu untuk mengubah segala padang gurun dan padang belantara yang tengah kita alami menjadi taman Eden, tamannya Tuhan yang penuh dengan kegirangan, sukacita dan nyanyian syukur. Itu menjadi bagian kita, itu merupakan janji Allah, jangan lepaskan itu dengan alasan apapun.

Menjadi milik Kristus melayakkan kita menerima janji Allah

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Perangkap Iblis

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 13:9-10
===============================
"Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?"

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangkap seekor tikus dengan menggunakan perangkap dengan umpan keju di dalamnya? Taruhlah ada tikus yang cerdik. Dia tahu itu perangkap dan bisa lolos dari jebakan yang satu. Lalu ada jebakan kedua dengan umpan lainnya, tikus itu masih bisa tidak tergoda. Bagaimana dengan perangkap ketiga, keempat dan seterusnya? Dalam keadaan lapar, atau disaat salah satu jebakan berisi umpan yang terlalu menggoda untuk dihindarkan, tikus itu bisa tertipu dan masuk ke dalam perangkap yang merupakan tempat terakhirnya sebelum binasa.

Ilustrasi ini saya anggap tepat untuk melihat contoh jebakan yang dipasang iblis untuk mematikan kita. Jebakan demi jebakan, satu perangkap ke perangkap berikutnya, semuanya siap membuat kita masuk terjebak dan binasa. Ada yang jelas-jelas terlihat gelap, ada pula yang dikemas seolah-olah baik, bahkan benar, tapi tetap saja jalannya menuju maut. Dan Firman Tuhan sudah menyebutkannya. "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12). Jebakan iblis ada dimana-mana dalam berbagai bentuk, penyesatannya tersebar di berbagai bidang, jika tidak benar-benar waspada, kita bisa masuk perangkap dan binasa disana.

Inilah bentuk dan cara kerja iblis yang kita kenal sebagai bapa segala dusta (Yohanes 8:44) seperti yang sudah kita lihat kemarin. Banyak tipuan iblis yang seolah-olah menjanjikan pertolongan instan dan banyak orang percaya yang masih saja terjerat dengan tipuan ini. Tidak harus selalu dalam bentuk yang nyata seperti jebakan okultisme atau kuasa gelap yang juga banyak versinya dan mendapat jam tayang baik di televisi, tapi bisa pula lewat hal-hal yang sepertinya sesuai dengan kebenaran padahal kalau diperhatikan baik-baik orientasinya menyimpang dari firman Tuhan. Lihat bagaimana prosperity teaching atau ajaran kemakmuran dipelintir seolah mengacu pada penggalan-penggalan Alkitab tapi justru menggiring manusia untuk menghamba pada uang atau mamon. Ini baru satu contoh saja karena penyesatan lewat jebakan iblis bisa muncul dalam ratusan, ribuan atau bahkan jutaan bentuk lainnya dan menggunakan berbagai media atau cara.

Paulus mengatakan hal ini tidaklah mengherankan. "Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang." (2 Korintus 11:14). Sebagai bapa dari segala dusta, bapa tipu muslihat, iblis memang peniru ulung yang pintar dalam memanfaatkan kelemahan kita untuk dimanipulasi. Kalau kita baca di Alkitab, salah satu bentuk jebakannya adalah lewat meniru pekerjaan yang dilakukan Tuhan. Kita bisa melihat contohnya dalam kitab Keluaran, yaitu ketika Musa dan Harun berhadapan dengan ahli sihir Mesir yang mampu meniru apa yang mereka lakukan di depan Firaun. Harun melemparkan tongkatnya kemudian tongkat itu berubah menjadi ular, tapi ahli sihir Mesir pun mampu membuat hal yang sama. (Keluaran 7:9-12). Iblis bisa melakukan itu dengan maksud mengelabuhi kita.

Mari kita ambil satu kisah tentang seseorang bernama Baryseus yang berada di pulau Siprus seperti yang ditulis dalam kitab Kisah Para Rasul. Baryseus disebutkan berprofesi sebagai tukang sihir dan nabi palsu. (Kisah Para Rasul 13:6). Di pulau Siprus itu tinggallah seorang gubernur bernama Sergius Paulus. Sergius sebenarnya adalah orang cerdas dan bijaksana. Ia sendiri yang memanggil Paulus dan Barnabas, karena kerinduannya mendengar firman Allah. (ay 7). Itu artinya ada seseorang yang ingin selamat dengan mendengarkan kebenaran firman. Iblis tentu tidak ingin itu terjadi, dan ia pun tidak akan tinggal diam. Lalu Baryseus alias Elimas pun beraksi. "tukang sihir itu, menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya." (ay 8). Berbagai tipu pun ia lakukan. Menyadari itu Paulus segera bereaksi."Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?" (ay 10). Baryseus kemudian terkena murka Tuhan hingga menjadi buta. Membelokkan jalan Tuhan yang lurus lewat rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, seperti itulah pekerjaan iblis lewat hamba-hambanya di muka bumi ini.

Saat-saat akhir jaman makin dekat seperti sekarang, semakin banyak orang yang berlaku begitu rupa sehingga terlihat seperti orang benar, tetapi sebenarnya mereka adalah hamba iblis yang berusaha menyesatkan dan membinasakan kita. Kemasannya bisa terlihat begitu rapi sehingga kalau tidak dicermati baik-baik kita bisa tertipu dan mengira bahwa semua itu sesuai firman Tuhan. Dalam Amsal dikatakan "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12), dan ini masih terus kita jumpai di sekitar kita hignga kini. Dalam surat Tesalonika kita bisa melihat peringatan akan hal ini. "Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka." (2 Tesalonika 2:9-10). Tidak bisa tidak, kita harus hati-hati agar jangan sampai kita termasuk dari mereka yang dikatakan "orang-orang yang harus binasa" karena menolak keselamatan.

Agar terhindar dari jebakan-jebakan ini kita harus selalu mempelajari baik-baik firman Tuhan agar tidak mudah terpengaruh atau terpedaya oleh berbagai pengajaran dan penawaran yang diberikan kepada kita. Untuk melawannya, dalam Efesus dikatakan bahwa kita sudah diberikan perlengkapan senjata Allah. Oleh karena itu, "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis." (Efesus 6:11). Perlengkapan senjata Allah itu secara rinci bisa dilihat dalam ayat 14-18. Ingatlah bahwa belum tentu apa yang sepintas terlihat benar itu sungguh benar. Kita harus terus waspada dan memperlengkapi diri senantiasa dengan perlengkapan senjata Allah.

Iblis akan selalu berusaha mencari titik lemah kita untuk dimanipulasi dan disesatkan. Jebakannya akan dipasang dimana-mana, tipu dayanya akan dikemas serapi dan seindah mungkin agar tidak ketahuan. Iblis bisa memasang perangkap lewat keinginan-keinginan daging, berbagai hal yang sepertinya terasa nikmat dan menyenangkan kedagingan kita, bisa lewat penyesatan-penyesatan kebenaran, atau bisa pula lewat orang dan sebagainya. Oleh karena itu berhati-hatilah. Tetap ijinkan Roh Kudus terus bekerja dalam diri anda agar anda bisa peka membedakan mana yang berasal dari Tuhan dan mana yang berasal dari tipu muslihat si jahat.

Tipuan atau perangkap yang dikemas sedemikian rupa bisa luput dari perhatian kita, jadi perhatikan setiap langkah agar tidak tertipu

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Menjangkau Orang Lain

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
"Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya."

Beda orang, beda tipe. Ada tipe orang intim yang sangat mudah bersosialisasi dan gampang berteman. Mereka biasanya extrovert alias gampang membuka diri. Ada tipe orang yang tertutup dan pendiam, dan mereka biasanya tidak terlalu peduli untuk bersosialisasi atau berteman dengan orang-orang yang belum mereka kenal sebelumnya. Akan mudah bagi kita untuk dekat dengan orang yang bertipe intim, sebaliknya tidak mudah bagi kita membangun hubungan dengan orang yang tertutup dan pendiam. Maka kita melihat ada orang yang nyambung, ada yang tidak nyambung. Ada yang langsung nyetel, ada yang perlu usaha keras dan ada yang rasa-rasanya sulit sekali.

Hal ini menjadi semakin menarik apabila kita hubungkan dengan sebuah tugas, atau lebih tepatnya disebut amanat yang diberikan Yesus langsung kepada kita, murid-muridNya. Pasti lebih mudah bagi kita menjangkau orang yang bersahabat, tapi akan suka saat berhadapan dengan orang yang tertutup apalagi yang tipenya kasar dan keras. Apa yang ditugaskan Tuhan Yesus adalah seperti ini: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Artinya, kita semua mengemban tugas untuk menyampaikan kebenaran kepada semua orang tanpa terkecuali. Ini tentu saja bukan berbicara tentang berkotbah atau membacakan Alkitab tetapi secara luas berbicara mengenai hidup yang menghasilkan buah, menjadi surat Kristus, alias menyatakan pribadi Kristus lewat cara hidup kita di dunia. Berarti bukan hanya orang-orang yang 'mudah' saja yang harus dijangkau, tetapi orang yang 'sulit' yang ditempatkan disekitar kita pun harus pula mendapat perhatian serius. Ada keragaman manusia yang sangat luas di sekitar kita. Untuk bisa melakukan Amanat Agung dibutuhkan kerelaan untuk meluangkan atau mengorbankan sebagian waktu, tenaga dan lain-lain, dan pengorbanan akan semakin besar diperlukan ketika berhadapan dengan orang-orang yang sulit.

Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang persis sama. Semua punya sesuatu yang unik dan berbeda yang membuat hidup ini penuh warna. Ada yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauh, atau bahkan menjadikannya landasan untuk berbuat jahat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada yang menyikapinya sebagai pembatas, memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman. Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Kalau berbeda denominasi saja masih membuat orang membangun pagar pembatas dan saling menjelekkan, bagaimana mungkin kita berani bermimpi untuk melihat Kerajaan Allah turun di muka bumi ini lewat kita yang beriman kepada Kristus? 

Kita memiliki tugas sendiri-sendiri. Paulus menggambarkannya seperti ini: "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain." (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

Selama bertahun-tahun setelah pertobatannya, Paulus terus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan kabar keselamatan. Perjalanan yang ia tempuh bukan pendek. Ia terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain bahkan hingga menyentuh Asia Kecil sebelum akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan di Roma. Walaupun ia banyak mendapat hambatan dalam pelayanannya, Paulus dikenal sebagai figur yang teguh dan taat dalam menjalankan tugasnya. Ia mengabdikan sisa hidupnya sepenuhnya untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Paulus terus berusaha menyentuh orang dengan pemberitaan Injil karena ia peduli terhadap keselamatan orang lain, rindu agar semakin banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Sang Juru Selamat.

Di dalam penjara pun ia terus menulis surat meski ia ditangkap, didera, disiksa, dan menunggu waktu dieksekusi mati. Bagi sebagian besar orang apa yang dialami Paulus mungkin akan dianggap sebagai akhir dari pelayanan. Mendapat beban seperti itu berpotensi mendantangkan kepahitan. Bukankah secara manusiawi kesulitan bisa membuat kita patah semangat dan menyerah? Tapi tidak demikian bagi Paulus. Dia tidak memandang halangan sebagai akhir dari segalanya. Justru Paulus memandang keterbatasan-keterbatasannya bergerak sebagai sebuah kesempatan. Kemanapun ia pergi, apapun resiko yang ia hadapi, seperti apapun keadaan yang ia hadapi, ia terus maju menjangkau banyak jiwa, meski jiwanya sendiri harus menjadi taruhannya.

Contoh keseriusan Paulus dalam melayani bisa kita lihat lebih jauh saat ia berada di Roma. Saat itu ia dikawal dan diawasi oleh seorang prajurit. Tetapi untunglah ia masih diijinkan untuk menyewa sebuah rumah sendiri meski harus tetap hidup dalam pengawasan. "Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya." (Kisah Para Rasul 28:16). Entah karena bertipe intim atau tidak, keterbatasan gerak sebagai tahanan rumah ternyata tidak menyurutkan langkahnya untuk menyebarkan kabar keselamatan. Dalam beberapa ayat berikutnya kita bisa melihat ia tetap beraktivitas seperti sebelumnya. "Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus." (ay 30-31). Paulus tidak menutup diri dan tidak berhenti melayani. Ia ternyata membuka rumahnya seluas-luasnya bagi semua orang tanpa terkecuali, memberi waktu dan tenaganya sepenuhnya untuk dengan terbuka memberitakan tentang Kerajaan Allah dan Yesus Kristus. Semua ini agar mereka yang datang ke rumahnya mengenal kebenaran dan bisa turut mendapat anugerah keselamatan.

Ada keragaman manusia yang luas di sekitar kita menunggu untuk dijangkau. Yesus sudah memanggil kita untuk menjadi saksiNya dan telah menganugerahkan Roh Kudus untuk turun atas kita demi panggilan tersebut. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Menjadi saksi baik di lingkungan terdekat kita dan terus bertumbuh hingga kita bisa menjadi saksi Kristus dalam sebuah lingkungan yang lebih besar, bahkan sampai ke ujung bumi tidaklah bisa kita lakukan jika kita terus memandang perbedaan sebagai alasan untuk menutup diri dari sebagian orang yang kita anggap berbeda atau berseberangan dengan kita.

Kita semua memiliki tugas untuk membawa banyak orang memperoleh keselamatan, dan itu adalah tugas yang harus kita jalankan. Jangan menutup diri terlalu kaku, jangan terlalu cepat menghakimi. Meski mungkin anda bukan bertipe intim, berusahalah menjangkau orang dan mengenalkan mereka pada keselamatan. Jangan berat hati dan menolak meluangkan atau mengorbankan waktu, tenaga dan sebagainya, karena semua ini merupakan hal-hal yang diperlukan dalam memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Semakin sulit orangnya maka pengorbanan yang diperlukan akan semakin besar, tapi lakukanlah dengan sukacita dengan didasari belas kasih.  Berbagai hal sederhana seperti memberi pertolongan, menunjukkan kepedulian, atau bahkan memberi sedikit waktu saja bagi mereka untuk mendengarkan bisa menjadi sesuatu yang indah untuk mengenalkan bagaimana kasih Kristus berlaku sama bagi setiap orang tanpa terkecuali.

Nyatakan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Kemurnian Hati

Ayat bacaan: Matius 5:8
====================
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."

Kemarin kita sudah melihat bagaimana Tuhan memperlakukan orang yang tangannya bersih dan hatinya murni. Orang seperti inilah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan dan masuk ke dalam tempatNya yang kudus (Mazmur 24:3) dan mereka menerima berkat dan keadilan dari Tuhan. (ay 5). Hari ini saya ingin fokus kepada hati yang murni. Sebuah bentuk hati yang tidak dibiarkan tercemar, terkontaminasi oleh hal-hal yang bertentangan dengan prinsip kasih seperti yang dijabarkan Paulus dalam 1 Korintus 13:4-7. Yesus bahkan berkata: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8).

Dalam versi English amplifiednya dikatakan"Blessed (happy, enviably fortunate, and spiritually prosperous--possessing the happiness produced by the experience of God's favor and especially conditioned by the revelation of His grace, regardless of their outward conditions) are the pure in heart, for they shall see God!" Diberkatilah (Bergembiralah, beruntunglah dan makmurlah secara spiritual - dengan kegirangan dan kepuasan hidup dalam kemurahan dan keselamatan Tuhan dan secara khusus berada dalam anugerahNya terlepas dari apapun kondisi yang tengah terjadi) mereka yang suci/murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah. wow. Ini sebuah anugerah yang luar biasa besarnya yang akan membuat hidup kita jauh berbeda dibanding kebanyakan orang yang masih membiarkan hatinya terus teracuni oleh iri, dengki, pandangan-pandangan yang keliru tentang kemurahan Tuhan dan berbagai pola pikir yang diajarkan dunia.

Hati merupakan faktor penting yang sangat menentukan kualitas hubungan kita dengan Tuhan, kemampuan kita dalam menerima berkat dan anugerahNya tanpa terhalang sesuatu apapun dan kemana kita akan mengarah setelah fase kehidupan yang sekarang ini selesai. Pendeknya, bagaimana hati akan sangat menentukan dan menunjukkan seperti apa kehidupan kita. Dalam kitab Amsal dikatakan "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu." Sebagaimana air memantulkan wajah saat kita pandang dari atas, seperti itu pula hati mencerminkan diri atau hidup seseorang. Tuhan pun sangat mementingkan hati. "... Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7). Sebegitu pentingnya kondisi hati kita, sehingga sebuah ayat berkata demikian: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Jaga hati bukan dengan asal-asalan, ala kadarnya/seadanya, dengan standar kewaspadaan rendah, tapi dikatakan dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah hidup itu terpancar.

Semakin murni hati kita, maka semakin besar pula kesempatan kita untuk membangun hubungan berkualitas dengan Tuhan. Dan semakin besar pula kesempatan kita untuk menikmati hidup yang berkemenangan, penuh sukacita dalam perlindungan dan perhatian Tuhan tanpa tergantung dari situasi dan kondisi yang tengah kita alami. Pertanyaannya sekarang, bagaimana agar kita bisa memperoleh dan menjaga kemurnian atau kesucian hati? Ada beberapa poin yang akan saya sampaikan berkenaan dengan hal ini.

1. Lahir baru.

Dalam Efesus 4 dikatakan: "yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (ay 22-24). Lantas dalam Kolose dikatakan "Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (ay 10-11).

Lahir baru membuat kita menjadi manusia baru, diperbaharui dalam roh dan pikiran, yang memungkinkan kita untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya/seharusnya. Sebuah proses lahir baru membuat kita bisa terus menerus diperbaharui untuk semakin dalam mengenal Allah secara benar. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:7). Tanpa menjadi ciptaan yang baru akan sangat sulit bagi kita untuk bisa memiliki hati yang suci.

2. Hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh. 

Dalam Galatia 5:16-26 Paulus menguraikan panjang lebar akan pentingnya hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh. Itu akan membuat kita terhindar dari hidup yang mementingkan keinginan-keinginan daging yang menyesatkan bahkan membinasakan. "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (ay 19-21). Sedang buah roh adalah "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (ay 22-23). Jadi"hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging" (ay 16) Dan "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh" (ay 25).

Dalam Yehezkiel hubungan hidup oleh Roh dan hati tertulis dengan jelas. "Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka." (Yehezkiel 11:19-20). Lihatlah bahwa roh yang baru bisa menjauhkan kita dari memiliki hati yang keras dan pembangkang. Hati yang baru dalam roh yang baru akan membuat kita mampu untuk hidup dengan ketaatan menurut semua ketetapan dan peraturan Tuhan dengan setia. Sebuah hidup yang didasarkan oleh Roh Allah dan dipimpin oleh Roh akan memampukan kita menjaga kemurnian hati.

3. Terus meningkatkan standar hidup sesuai kebenaran Firman

Dalam Kisah Para Rasul 24:16, Paulus mengatakan "Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." Ini penting agar kita tetap bisa terhindar dari berbagai penyesatan baik yang terang-terang kelihatan maupun yang tersamar, dibungkus oleh kemasan yang seolah benar. Tanpa mengetahui/memahami Firman Tuhan, akan sulit bagi kita untuk tetap menjaga kemurnian hati dari kecemaran. Bukan saja melakukan dosa, tetapi juga menjaga hati agar tetap sejuk, jauh dari iri hati, dengki, sirik dan lain-lain. Kita perlu tahu, merenungkan Firman Tuhan, tapi terlebih meningkatkannya kepada melakukan Firman.

4. Membereskan kesalahan-kesalahan di masa lalu

Seringkali orang terjebak dan sulit tumbuh karena masih terbelenggu dengan masa lalu. Perhatikan apa kata Paulus berikut: "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Masalahnya, seringkali kesalahan masa lalu yang belum dibereskan menjadi penghalang kita untuk menjaga kemurnian hati. Iblis akan selalu berusaha memanfaatkan kesalahan di masa lalu untuk mendakwa kita.

Dalam Ayub 1:12 iblis disebutkan sebagai "the accuser" alias penuduh/pendakwa (versiEnglish amplified) yang terus berusaha melemahkan kita. Iblis tidak ingin kita diselamatkan. Iblis akan terus berusaha mendakwa atau menuduh kita sampai kita putus asa dan semakin lama semakin jatuh. Yang dipakai untuk mendakwa adalah dosa kita, maka untuk menutup mulut iblis, kita harus segera mengakui dosa kita. Begitu kita mengakui dosa kita dan memohon ampun, saat itu pula Allah mengampuni kita. Imani dan percayalah akan hal itu. Tidak ada alasan lagi bagi iblis untuk mendakwa kita, karena dosa kita sudah diampuni. Apa kata Tuhan mengenai orang yang mengakui dosanya? "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."(1 Yohanes 1:9). Jadi penting sekali untuk membereskan kesalahan di masa lalu agar tidak ada lagi pijakan bagi iblis untuk mendakwa kita.

5. Mendengar hati nurani

Banyak orang yang mengabaikan hati nuraninya dalam mengingatkan kita akan sebuah potensi bahaya. Padahal hati nurani seringkali menjadi sarana Tuhan untuk menghindarkan kita dari jebakan. Semakin lama kita abaikan, semakin tidak peka pula kita terhadap suara Tuhan.

Firman Tuhan berkata: "Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka," (1 Timotius 1:19). Hal ini disampaikan Paulus kepada Timotius dalam rangka penugasannya, dan Paulus pun mengingatkan bahwa sebuah perjuangan yang baik hanya bisa dilakukan dengan iman dan hati nurani yang murni (ay 18). Karena itu jagalah kepekaan hati nurani dan kepekaan mendengar suara (nasihat, peringatan) Tuhan. Jangan biarkan hati nurani terus teracuni dan terabaikan sehingga kita berpotensi untuk tercemar.

6. Menjaga hati dari perasaan dendam, sakit hati dan pahit

Ingatlah bahwa salah satu hal yang tersering mencemari hati adalah saat rasa dendam sebagai efek dari dibiarkannya sakit hati bercokol dalam diri kita dibiarkan tumbuh. Untuk mencegahnya, kita harus hidup dalam pengampunan. Pengampunan berarti mau memaafkan orang dan tidak lagi mengingatnya.

Mengapa kita harus sanggup dalam tingkatan itu? Karena bukankah Tuhan pun melakukan hal yang sama kepada kita? "... sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31:34). Kalau Tuhan seperti itu, siapakah kita yang merasa berhak untuk mendendam?

Akan selalu ada saat dimana kita merasa sakit hati oleh perbuatan orang lain. Bisa jadi perasaan itu begitu menyakitkan sehingga menimbulkan kepahitan. Apa yang diingatkan Yesus akan hal ini sangat berbeda dari cara pandang dunia terhadap reaksi kita atas perilaku jahat orang lain. "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:43-44). Firman Tuhan pun sudah mengingatkan kita agar tidak bersukacita ketika musuh terjatuh.  "Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok" (Amsal 24:17).

Orang yang mendendam artinya sama dengan tidak mengenal Allah. Firman Tuhan berkata"Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Dan kasih tanpa pamrih seperti halnya Tuhan mengasihi kita ini sudah selayaknya diberikan kepada siapapun, termasuk kepada musuh yang sudah berlaku sangat jahat kepada kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak memberikan bentuk kasih seperti ini, karena sesungguhnya Allah sendiri sudah mendemonstrasikannya kepada kita. Ditambah lagi kasih dari Allah ini sudah dicurahkan kepada kita lewat Roh Kudus. Kita bisa melihat buktinya lewat kitab Roma: "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:5).

Daud menyadari betul pentingnya memiliki hati yang murni dan kudus. Lihatlah apa yang ia serukan kepada Tuhan. "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" (Mazmur 51:12). "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (139:23-24). Dan kita lihat bagaimana Daud yang pernah jatuh sedemikian parah tapi bisa diangkat kembali oleh Tuhan karena Tuhan melihat komitmennya dalam menjaga hati.

Benar, tidaklah mudah untuk bisa menjaga hati agar tetap murni. Terlebih saat ada begitu banyak godaan dan penyesatan yang hadir dalam setiap lini kehidupan kita, lewat berbagai bentuk. Bisa jadi kita perlu bergumul dan berperang melawan semua itu, tetapi kalau kita tahu bahwa hati yang murni itu penting, kita akan mengerahkan segenap daya upaya agar bisa menjaga kemurniannya.

Kemurnian hati sangatlah menentukan kemana arah hidup kita dan bagaimana bentuk hidup kita. Tidak banyak yang menyadari bahwa semua itu berawal dan berasal dari hati. Kalau kita sudah tahu bagaimana pentingnya menjaga kemurnian hati, kenapa kita tidak mulai melakukannya mulai sekarang? Itu akan menghindarkan kita dari berbagai hal buruk, dan akan terus mengarahkan kita kepada jejak langkah yang benar.

Menjaga kemurnian hati menentukan hidup yang sekarang dan kemana nantinya di kehidupan yang akan datang

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Bersih Tangan dan Murni Hati

Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5
=======================
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

Kalau melihat lowongan kerja, hampir semua perusahaan mendasarkannya pada gelar. Minimal S1, lebih baik lagi S2 apalagi S3. Lucunya, seringkali mereka hanya mencari sarjana tanpa mempedulikan bidang yang dipelajari. Gelar sarjana teknik bekerja di bank, gelar sarjana ekonomi di bidang yang tidak berhubungan dengan perekonomian, bahkan ada teman lulusan sarjana sastra yang bekerja sebagai supervisor sebuah pabrik makanan ringan. Yang penting S1 dan S lainnya kan? Itu yang dicari. Padahal gelar bisa dibeli, skripsi bisa dialihkan bebannya kepada orang dengan sejumlah uang. Kalau saya yang punya perusahaan, saya tidak akan menggantungkan pada gelar. Mengapa? Karena ada banyak nilai lain yang lebih penting yang nantinya akan jauh lebih berguna ketimbang sebuah surat ijazah kelulusan. Semua bisa diajarkan dan dipelajari, tapi integritas, kesetiaan, ketulusan, kejujuran dan sejenisnya buat saya lebih menentukan kualitas seseorang.

Ini merupakan kualitas manusia yang semakin lama semakin langka dan semakin jarang dianggap penting. Korupsi dan penipuan terjadi di setiap lini pekerjaan mulai dari atas sampai ke bawah. Orang pun tidak lagi tulus dalam mengerjakan sesuatu tapi pamrih. Hasil kerja tergantung bayaran, kalau tidak dibayar tidak dikerjakan, pendeknya semuanya tergantung uang. Soal jujur apalagi. Berbagai godaan, tuntutan keadaan atau alasan seperti ikut arus, solidaritas dan sebagainya bisa membuat orang meninggalkan integritasnya dan mulai beralih untuk mencari tambahan lewat cara-cara curang. Sedikit saja kan tidak apa-apa? Apalah artinya sekian juta buat perusahaan... atau, ah sekali-sekali masa tidak boleh? Kebetulan lagi butuh sih... Dalih seperti itu dijadikan pembenaran untuk mengambil apa yang bukan menjadi haknya.

Dan cara dunia memandang pun menjadi semakin terbalik. Jaman sekarang orang yang jujur dan tulus justru dipandang aneh atau malah bodoh. Orang semakin cenderung berpikir pendek dan mementingkan urusan duniawi, dan itulah orang-orang yang dianggap pintar. Apa yang dikatakan Daud dahulu: "Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik" (Mazmur 14:1), kini semakin banyak dianut orang. Orang tidak lagi memikirkan pertanggungjawaban kelak di hadapan Tuhan. Masalah kekal nanti dulu, pikirkan dulu dunia yang fana ini. Lumayan kan bisa kaya selama sisa hidup? Anak-anak dikasih makan hasil korupsi juga tidak apa-apa, ketimbang hidup susah kalau jujur. Atau kalaupun tahu bahwa Allah itu ada, tetapi mereka mengira bahwa Tuhan tidak akan menghukum karena mereka menyalah artikan bentuk kasih dan kesabaran Tuhan yang besar dan panjang. Bentuk ilusi rohani seperti inipun sudah disinggung dalam Alkitab. "Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?" Dengan cara kamu menyangka: "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan--atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?" (Maleakhi 2:17). Bukankah itu yang terpampang di depan mata kita saat ini?

Dalam Mazmur terdapat ayat yang bunyinya demikian: "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Apa yang dimaksud dengan orang yang bersih tangannya? Rajin cuci tangan? Pakai antiseptik? Sarung tangan? Tidak main lumpur dan yang kotor-kotor? Tentu bukan. Yang dimaksud dengan orang yang bersih tangannya berarti menjauhi bentuk-bentuk penipuan, menjauhi kecurangan dan tidak gampang tergoda oleh keuntungan-keuntungan lewat jalan yang salah. Orang yang bersih tangannya adalah orang yang tidak melakukan hal-hal salah dan jahat dalam bekerja atau melakukan segala sesuatu. Orang yang bersih tangannya tidak melakukan hal-hal yang tercemar.

Bagaimana dengan pure heart atau murni hatinya? Ini adalah jenis orang yang tidak tergoda pada kecurangan. Kalau kita lihat dalam beberapa ayat lain, dalam Mazmur 24:3-4 dikatakan "Orang yang mencintai kesucian hati dan yang manis bicaranya menjadi sahabat raja." He who loves purity and the pure in heart", itu yang dikatakan dalam bahasa Inggrisnya. Inilah orang-orang yang bisa mendapat kehormatan. Setelah renungan ini saya akan membahas lebih jauh mengenai kemurnian hati ini.

Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan. Orang seperti inilah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan dan masuk ke dalam tempatNya yang kudus (Mazmur 24:3), dan mereka inilah yang akan menerima berkat dan keadilan dari Tuhan. (ay 5). Inilah upah besar yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang hidup jujur dan tulus.

Kehidupan dalam tingkatan seperti inilah yang diinginkan Tuhan. Kasih dalam standar kekristenan harus mengandung kebaikan-kebaikan yang mencakup kedua hal ini. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Di dalam kasih itu ada bentuk-bentuk hidup dengan hati yang murni, penuh ketulusan dan kejujuran. Artinya jika kita mengaku hidup dalam kasih Tuhan, seharusnya kedua hal ini pun terpancar dari kehidupan kita. Bagaimana mungkin orang yang tidak jujur dan tidak tulus masih berani mengaku punya kasih dalam dirinya? Dan bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kasih mengaku mengenal Allah? "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).

Kalau kita sadar bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, kita tidak perlu takut kekurangan dan khawatir akan hari depan sehingga merasa perlu melakukan tindakan-tindakan yang tidak jujur atau curang agar bisa mampu mencukupi hidup. Kita tidak perlu merasa iri melihat orang lain, justru harus bisa belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Yakobus mengingatkan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."(Yakobus 3:16).

Kita harus selalu menghindari berbuat curang yang mencermarkan hati kita. Ketahuilah bahwa meski mungkin kita berhasil mengelabui manusia, tapi Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita. Dan Firman Tuhan berkata:"Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Secara tegas Tuhan juga berfirman:  "Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum, firman TUHAN." (Yeremia 8:12).

Orang bisa saja menganggap bahwa Tuhan tidak menghukum mereka saat ini dan berpikir bahwa mereka aman dari hukuman. Orang-orang jahat ini bisa saja pintar dalam menipu manusia, atau menghamburkan uangnya untuk menyuap penegak hukum agar terlepas dari jerat hukum. Sekarang mungkin lepas, tapi pada suatu ketika nanti hukuman Tuhan itu tetap akan tiba biar bagaimanapun. Akan datang waktunya dimana semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, dan disana tidak akan ada yang bisa berkelit lagi. Kepentingan sesaat di dunia fana diprioritaskan dengan sebuah hidup yang kekal? Itu tentu sebuah pilihan yang sangat naif.

Dunia memang semakin lama semakin keliru menilai prinsip hidup, tetapi kita orang percaya tidak boleh ikut-ikutan seperti itu. Dunia bisa saja semakin kekurangan orang-orang yang tulus dan jujur, kita harus menunjukkan bahwa umatNya yang ada di dunia ini bisa tampil beda dengan ketulusan dan kejujuran sebagai bagian dari kehidupan kekristenan yang sebenarnya. Oleh karena itu jagalah agar kita bisa memiliki ketulusan hati dan kejujuran. Apapun alasannya, apapun resikonya,  Belajarlah untuk senantiasa mempercayai Tuhan, mengasihiNya dan hidup sesuai kehendakNya. Tuhan menyediakan berkat-berkat bagi orang yang hidup dengan ketulusan, kejujuran dan kemurnian hati. Firman Tuhan berkaa: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Ini janji Tuhan sendiri. "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya."(Mazmur 73:1).

Kita bisa dipandang bagai mahluk aneh, ditertawakan dan menganggap kejujuran dan ketulusan sebagai sebuah kebodohan. Let it be. Sebab bukan apa kata manusia yang penting, tapi bagaimana Tuhan memandang hidup kita itulah yang penting. Tuhan menjanjikan berkat dan keadilan bagi orang-orang yang hidup dengan tangan yang bersih dan hati yang murni. Orang seperti ini bisa masuk ke dalam rumahNya, berdiam di bukitNya, dan mendapat jaminan berkat dan keadilan dari Tuhan. Nikmati kebaikan Tuhan lewat hidup yang kudus dimana ketulusan dan kejujuran berperan didalamnya. Keduanya merupakan bagian dari integritas yang wajib dimiliki anak-anak Tuhan. Tuhan sanggup memberkati anda berlimpah-limpah dan melindungi hidup setiap orang yang berjalan seturut kehendakNya, dan anda bisa memperoleh semua itu tanpa harus melakukan tindakan-tindakan yang justru akan menghancurkan diri sendiri.

Tangan yang bersih dan hati yang murni merupakan bagian dari integritas yang harus menjadi gaya hidup orang percaya

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Beribadah Tapi Memungkiri Kekuatannya

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."

Ke gereja tapi tetap takut hantu. Rutin berdoa tapi masih percaya mistis. Beribadah ya, ke paranormal juga ya. Katanya percaya Tuhan, tapi kuatir tetap Ada banyak sekali orang percaya yang masih seperti itu. Mengakunya mengandalkan Tuhan, tapi mamon tetap nomor satu. Uanglah yang terus menjadi prioritas utama hidup. Bukankah semua kebutuhan membutuhkan uang? Tahu bahwa Tuhan bisa melakukan mukjizat, tapi hidup masih saja tergantung jimat. Katanya warga negara Kerajaan Surga, tapi masih saja ikut cara-cara sesat dunia. Perhatikanlah, ada banyak orang peraya yang masih memiliki cara pandang dan pola hidup seperti ini. Mengapa ini bisa terjadi? Itu karena mereka menjalankan ibadah tapi meragukan kekuatannya.

Kebiasaan memakai logika manusia yang terbatas dalam memahami kuat kuasa Tuhan yang tak terbatas bukan hanya masalah bagi orang percaya hari ini tapi sudah terjadi sejak jaman dahulu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang akhir jaman. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai "masa yang sukar". (ay 1). Masa yang sukar, dalam benak kita itu berarti ada banyak krisis, bencana, peperangan, tekanan, instabilitas politik, keonaran yang ditimbulkan para pengacau keamanan dan sebagainya. Benar, itu memang masih terus terjadi akhir-akhir ini. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan sekedar mengacu kepada kerusakan lingkungan, ketidakstabilan atau bahkan krisis ekonomi. Masa-masa yang sukar menurut Paulus terletak pada kejatuhan manusia semakin jauh dalam mementingkan dirinya sendiri.

"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (ay 2-4). Perhatikan bahwa sikap-sikap seperti ini bukan lahir dari orang tidak percaya tapi justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas. Intinya, secara lahiriah mereka beribadah, tapi mereka sebenarnya meragukan atau bahkan menolak kekuatannya. Although they pray constantly, they refuse to believe the power of it. They are still strangers to God. Ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja, rajin persekutuan dan rutin berdoa tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun lewat itu semua. Kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya.

Apakah saya mengatakan bahwa beribadah itu berarti tidak penting? Sama sekali tidak. Beribadah itu sangat penting. Tapi adalah penting juga bagi kita untuk memastikan bahwa setiap ibadah yang kita lakukan disertai iman yang penuh dan bulat, tidak setengah-setengah, tidak hanya sekedar menjalankan apa yang kata orang tua wajib untuk dilakukan. Beribadah itu perlu latihan. Itu dikatakan langsung oleh Paulus. "Latihlah dirimu beribadah". (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena latihan rohani itu bisa membawa manfaat yang jauh lebih besar dari latihan badani/jasmani. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Anda pergi ke pusat kebugaran, bangun pagi dan lari pagi, itu akan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran. Itu berguna bagi kehidupan kita di dunia saat ini, tetapi tidak akan ada gunanya lagi untuk hidup yang akan datang. Sedangkan melatih diri untuk beribadah akan berguna baik untuk hidup saat ini maupun yang akan datang nanti.

Jadi jelas beribadah itu penting. Tapi jangan lupa bahwa kita pun harus tahu hakekatnya kita beribadah. Paham tujuannya, mengerti kegunaannya dan sadar sepenuhnya akan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Itu perlu kita ketahui dan camkan benar-benar agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, tidak berhenti hanya sebatas menjalankan tradisi, sesuai kebiasaan atau tata cara liturginya saja. Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mampu membangun iman kita untuk bertumbuh makin besar, berakar dalam Kristus semakin dalam, sehingga kita lagi terjebak memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

Ibadah yang dilakukan hanya pada titik lahiriah saja tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi kita. Kita akan terus semakin jauh dari pengalaman-pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Kita tidak akan bisa merasakan mukjizatNya, penyertaan dan pertolonganNya yang ajaib, serta berbagai kuasa Tuhan yang terus dinyatakan hingga hari ini secara nyata. Kita akan menolak untuk mempercayai bahwa memang ada orang-orang yang mengalami mukjizat sebagai bagian dari pengalaman hidupnya. Kalau memang tidak percaya, lantas buat apa repot-repot berdoa dan melakukan ibadah? Karya Tuhan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk kita alami. We can see it, feel it, experience it for real. Kita harus terus maju memahami kekuatan dari ibadah hingga pada suatu ketika nanti bisa mengalaminya langsung, bukan lagi hanya kata orang tetapi kita sudah mengalami sendiri. Semua orang percaya harus sampai kepada tingkatan seperti itu, dan itu akan sulit sekali apabila kita sendiri masih memungkiri kekuatannya. Bukankah Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan bahwa iman sebesar biji sesawi sekalipun akan mampu memindahkan gunung, dan tidak akan ada lagi yang mustahil bagi kita? (Matius 17:20). Ibadah yang dilakukan secara kosong tanpa disertai iman hanya akan sia-sia. Karenanya kita perlu benar-benar memastikan agar kita tidak sampai terjebak pada melakukan sebuah rutinitas tanpa makna dalam hal menjalankan ibadah.

Ibadah tidak boleh terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya. Ibadah tidak boleh berhenti pada tata cara, gerak tubuh, posisi dan ucapan yang sama berulang-ulang. Ibadah seharusnya diarahkan untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan terus meminta, mengeluh dan merengek tetapi lebih dari itu seharusnya dipergunakan untuk bersekutu denganNya, merasakan hadiratNya, mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah.

Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa bahkan akan ada hukuman Tuhan yang jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, kebiasaan, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera."(Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula Firman Tuhan berikut: "beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar.

Tuhan tidak suka diduakan atau hanya dijadikan satu dari sekian banyak alternatif. Tuhan tidak suka ketika kita hanya ingin terlihat hebat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Sebaliknya Tuhan akan disenangkan hatiNya kala melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena mengerti betul kekuatan atau kuasa yang terkandung di dalamnya. Tuhan akan sangat senang kalau anak-anakNya beribadah karena haus merasakan kedamaian dan sukacita saat bersamaNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya dengan mengaplikasikan firman Tuhan secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari.

Kita bukanlah hidup untuk terlihat hebat di depan manusia, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan. Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan ibadah kita. Percayalah bahwa ada kuasa luar biasa dibalik setiap ibadah yang kita lakukan dalam namaNya. Itu masih terjadi secara nyata sampai hari ini, masih akan terjadi nanti, dan itu pun bisa kita alami secara langsung dalam kehidupan kita sendiri, tapi itu tidak akan bisa kita alami apabila kita masih terus memungkiri kekuatannya.

Jangan biarkan ibadah sia-sia dan kosong dengan hanya mementingkan tata cara dan kebiasaan saja

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Menjauhkan Hukuman atas Bangsa

Ayat bacaan: Yoel 2:13
==================
"Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya."

Shalom,
Layaknya sebuah perjalanan hidup kita, perjalanan hidup bangsa dan negara pun penuh liku-liku dengan suka dan dukanya sendiri. Ada puluhan bahkan ratusan juta orang yang tinggal disana dengan tingkahnya masing-masing, tipe pemimpin pun berganti-ganti. Jika yang memimpin dan dipimpin mau bahu-membahu menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa dan memiliki roh yang takut akan Tuhan, apapun masalah yang dihadapi bisa segera terselesaikan. Disanapun Tuhan akan menjauhkan penghukuman dan akan menurunkan kasih setiaNya dengan berlimpah. Terkadang bisa jadi kita salah mengambil keputusan. Apa yang penting untuk diingat apabila kita sudah terlanjur salah dalam melangkah adalah tidak mempertahankan kesalahan dan malah melanjutkannya kepada kesalahan berikutnya tetapi segera menyadari dan bergegas untuk berbalik arah dan kembali kepada jalan yang benar.

Dalam renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana Daniel mendoakan bangsanya dengan mengambil posisi bukan sebagai orang luar tetapi sebagai bagian dari bangsanya sendiri dengan menggunakan kata 'kami' dalam doanya dan bukan 'mereka' yang tertulis dalam Daniel 19:1-9. Meski Daniel tidak ikut-ikutan berbuat kejahatan, tapi ia menyadari bahwa ia adalah satu dari sekian banyak orang yang hidup disana dan oleh karenanya sebagai orang benar ia mengambil bagian untuk mendoakan bangsanya, agar kiranya murka Allah menjauh dari bangsanya. Doa orang benar yang didoakan dengan yakin itu besar kuasanya (Yakobus 5:16), maka peran aktif orang percaya untuk mendoakan bangsanya akan sangat penting, selain tentunya turut berperan serta secara aktif dengan bentuk-bentuk perbuatan nyata yang sesuai dengan ketetapan Tuhan.

Contoh lainnya ada dalam kitab Yoel. Disana kita bisa melihat bagaimana mengerikannya hukuman Tuhan yang jatuh atas bangsa Yehuda. Disana kita melihat serbuan belalang yang menakutkan (Yoel 1:4), dimana serbuan belalang itu menimbulkan kerusakan sangat parah pada pertanian dan perekonomian mereka. (ay 7-12). Tidak ada lagi gandum, anggur dan minyak, sehingga mereka tidak bisa lagi mempersembahkan korban curahan. (ay 9-13). Menyikapi hal ini, Yoel menyampaikan seruan Allah pada mereka yang telah meninggalkanNya dan seperti Daniel, Yoel pun berdoa bagi semuanya. (ay 19). Yoel meminta bangsa Yehuda untuk melakukan tiga hal: meratap (ay 8,13), berkabung (ay 13) dan  puasa (ay 14). Yoel menyerukan agar bangsa Yehuda yang sudah terlanjur tersesat untuk segera berbalik kembali pada Tuhan dengan hati yang koyak, seperti yang saya ambil menjadi ayat bacaan hari ini. "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya." (Yoel 2:13). Sebuah pertobatan dengan hati terkoyak punya kekuatan untuk mendorong Tuhan menghentikan hukuman kemudian mengembalikan belas kasihNya secara berlimpah untuk turun atas umatNya. Yoel 2:18-27 berbicara mengenai janji Tuhan yang luar biasa pada bangsa yang bertobat. Pemulihan luar biasa atas pertanian yang penuh kelimpahan, curah hujan yang cukup, kehormatan, semua akan mereka peroleh begitu mereka bertobat dengan sungguh-sungguh. Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih, adil, setia dan selalu siap untuk mengampuni siapapun yang datang kepadanya dengan hati hancur untuk bertobat, meninggalkan kesesatan mereka dan kembali pada jalan yang benar, kembali kepada Tuhan.

Kita bisa saja berdalih bahwa sebagai kaum minoritas yang kerap mengalami tekanan dan ketidak-adilan, maka apapun yang diusahakan tidak akan bisa berdampak besar dalam mengatasi kondisi bangsa yang carut marut. Ini adalah pemikiran yang keliru, karena dari kisah Abraham dan kota Sodom saja kita bisa melihat bahwa jumlah orang percaya yang benar meski hanya 10 orang saja akan mampu membuat Tuhan mengurungkan niat untuk menghabisi kota tersebut beserta orang-orangnya. Itu bisa kita baca dalam Kejadian 18:16-33. Bayangkan sebuah kota yang sudah begitu parah kerusakan moralnya seperti Sodom saja bisa beroleh pengampunan jika ada orang yang benar-benar hidup menurut ketetapanNya disana. Artinya kita pun bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini, seandainya umat Allah yang hidup di dalamnya mau benar-benar hidup dengan benar, tidak menyimpang dari ketetapanNya melainkan melakukan semuanya dengan taat, bukan malah ikut-ikutan berbuat hal-hal buruk atau malah lebih parah dari perilaku jahat orang-orang yang tidak mengenal atau tidak takut akan Tuhan.

Ketika kita mendapati bangsa kita ada ditengah situasi sulit, terbelit masalah ekonomi, kesulitan hidup, kecelakaan bahkan bencana, lewat kitab Yoel ini kita bisa belajar sesuatu. Periksalah cara hidup, tingkah laku dan perbuatan. Apakah kita sudah berjalan bersama Tuhan, mentaati dan memprioritaskanNya dalam perjalanan hidup kita? Sudahkah kita mendengarkan Tuhan dengan serius karena kita sungguh mengasihiNya, atau kita tanpa sadar sudah begitu jauh menyimpang dari jalanNya? Seringkali kita terlalu mudah menyalahkan orang lain, tidak mau turut serta tapi hanya menimpakan kepada pemimpin, atau malah dengan berani menyalahkan Tuhan. Rentang jarak pemisah untuk datangnya pertolongan Tuhan bisa timbul sebagai akibat dari jarak antara perbuatan kita yang penuh dosa dengan tahtaNya. Alangkah baiknya sebelum menyalahkan siapa-siapa, kita terlebih dahulu melihat kembali dimana kita ada saat ini. Tidak pernah ada kata terlambat untuk bertobat. Bahkan dalam keadaan sangat hancur seperti bangsa Yehuda diatas sekalipun, belumlah terlambat untuk bertobat karena Tuhan akan segera mengampuni dan melimpahkan berkatNya segera begitu kita berbalik kembali kepadaNya. Kita harus datang menghampiriNy dengan hati terkoyak, hati yang hancur, yang berarti dengan segala kesungguhan meninggalkan segala perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Ingatlah bahwa "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Mazmur 51:19). Tuhan penuh kasih setia yang berlimpah dan tidak terbatas. Kesungguhan kita akan menjauhkan murkaNya dan mendatangkan berkatNya kepada bangsa.

Peran orang percaya yang benar sangat diperlukan untuk membenahi bangsa

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Melakukan Hal Nyata Bagi Bangsa

Ayat bacaan: Yeremia 29:7
====================
"Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."

Shalom,
69 tahun kita sudah merdeka, seperti apa bangsa kita saat ini? Secara hukum negara kita adalah negara yang berdaulat. Undang-Undang sudah dibuat dimana kesejahteraan rakyat atau warga negara yang hidup di dalamnya terjamin, mendapat kepastian hukum, keamanan dan keadilan. Selama 69 tahun negara ini berdiri, sudahkah semua itu ada? Jawaban mungkin beragam. Negara yang seharusnya makmur karena memiliki begitu banyak kekayaan alam ternyata masih terlilit hutang dan hasil buminya habis diporoti negara-negara lain yang lebih kuat. Harga bahan-bahan pokok atau kebutuhan primer terus ngebut naik sementara pendapatan merangkak kalau tidak bisa dibilang jalan di tempat atau bahkan menurun. Perlindungan kepada kaum minoritas masih terus menjadi kendala, ketidakberdayaan pemerintah menghadapi ormas-ormas atau kelompok-kelompok tertentu masih terlhat jelas, apalagi kalau mereka ini punya 'backing' kuat. Korupsi masih mewarnai berbagai lapisan dalam pemerintahan dari hulu sampai hilir. Semua masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikirkan agar bisa menjadi negara seperti yang dicita-citakan para pendirinya. Tapi tidak adil juga kalau kita hanya terus melihat sisi-sisi buruk. Hal yang positif adalah bahwa trend negara ini terus menuju kepada kondisi yang lebih baik. Munculnya orang-orang bersih yang diberi kesempatan untuk memimpin beberapa daerah ternyata membuka mata kita bahwa masih ada orang-orang berintegritas yang peduli terhadap nasib bangsa, tidak hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya saja tetapi mau mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya. Kepedulian terhadap penderitaan orang lain masih ada, dan orang-orang yang mengedepankan kebersatuan ditengah kemajemukan belum habis.

Bagaimana dengan kita? Kalau kita termasuk orang-orang yang memimpikan tatanan kehidupan yang jauh lebih beradab, lebih baik, lebih damai, lebih bersatu dan lebih-lebih positif lainnya, apakah kita sudah berbuat sesuatu untuk itu atau kita masih menjadi orang-orang yang hanya mengeluh tanpa mau mengambil langkah apapun? Ada orang yang pernah berkata kepada saya bahwa ia merasa tidak perlu berbuat apa-apa karena apalah artinya satu orang dibanding sekian ratus juta orang lainnya dalam membenahi perjalanan bangsa ini ke depan. Benarkah demikian? Salah seorang kandidat pemimpin negara pernah mengatakan bahwa ia mencoba terjun langsung ke gelanggang pemilihan karena ia tidak mau menjadi orang yang hanya berpangku tangan dalam impiannya akan sebuah negara yang lebih baik. Ia tidak mau hanya menjadi komentator atau jago mengeluh, tapi ia memilih untuk terjun langsung agar bisa membenahinya. Ini adalah sebuah sikap yang sangat baik karena Tuhan sendiri tidak mau kita hanya diam saja tetapi iman yang ada di dalam diri kita wajib dicurahkan lewat berbagai bentuk tindakan nyata. Mungkin kecil, mungkin terlihat tidak membawa perubahan apa-apa dalam waktu singkat, tetapi percayalah apapun yang baik yang kita lakukan sesuai dengan ketetapan dan kebenaranNya, seturut kehendakNya, sesuai panggilan kita masing-masing dan dilakukan demi namaNya tidak akan pernah berakhir sia-sia. Kalaupun di dunia ini belum berdampak besar, setidaknya di mata Tuhan itu akan punya nilai dan akan sangat diperhitungkan.

Firman Tuhan banyak berbicara akan hal ini. Bahkan ada ayat-ayat yang menggambarkan bahwa meski sedikit, kalau memang yang sedikit itu benar-benar mengamalkan firman Tuhan secara nyata, maka itu mampu mencegah turunnya murka Tuhan dan berkenan mencurahkan berkatNya bagi seisi bangsa. Itu bisa kita lihat lewat kisah pada saat Abraham memohon kepada Tuhan agar Dia mengurungkan niatNya memusnahkan Sodom beserta isinya dalam Kejadian 18. Abraham memohon: "Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kejadian 18:25). Tuhan meresponnya seperti ini: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (ay 26). Ternyata disana saat itu jumlah orang benar ada dibawah 50 orang. Tawar menawar terus terjadi, hingga "Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (ay 32). Seandainya ada 10 orang saja yang sungguh-sungguh hidup benar maka Tuhan tidak akan menghukum Sodom sekeras itu. Mengingat bahwa Tuhan memutuskan untuk menghukum Sodom, artinya jumlah orang benar yang hidup disana sudah teramat sangat kecil, atau mungkin malah tidak ada sama sekali lagi. Padahal jika ada 10 orang saja, 10 orang benar, orang peduli dan tidak apatis, orang yang taat dan takut akan Tuhan, Tuhan akan mengampuni bangsa Sodom beserta semua orang yang hidup didalamnya.

Seperti apa orang benar yang dimaksud Tuhan ini? Orang benar bukanlah sekedar orang yang mengaku percaya saja tetapi mereka yang mengamalkan, menerjemahkan atau mewujudkan imannya ke dalam bentuk-bentuk perbuatan nyata. Bukan sekedar mengaku lantas di saat yang sama ikut melakukan perbuatan-perbuatan buruk, bukan sekedar mengaku lalu hidupnya masih sama sekali tidak mencerminkan pribadi Kristus, bukan pula orang-orang yang tampak seolah suci tetapi hanya diam saja tanpa melakukan apapun bagi bangsanya. Jadi bisa saja ada ribuan bahkan jutaan orang yang mengaku sebagai umatNya, tetapi kalau tidak berbuat apa-apa atau malah masih lemah sehingga terus terseret ke dalam berbagai penyimpangan kebenaran firman dan belum aktif sebagai pelaku firman, maka semuanya akan sia-sia saja.

Dalam kitab Yeremia ada sebuah ayat yang menunjukkan peran orang percaya dalam hubungannya dengan kesejahteraan kota dimana kita/mereka tinggal. "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). Bagi saya ayat ini berbicara sangat banyak meski bentuknya hanya terdiri atas satu kalimat singkat saja.

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »

Bersikap Sesuai Didikan Terhadap Anak

Ayat bacaan: Efesus 6:4
=====================
"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."

Shalom,
Metode mendidik anak berbeda-beda bagi setiap orang tua. Ada yang tingkat kesabarannya panjang, ada yang sumbunya pendek. Ada yang memberi ruang gerak cukup bagi anaknya, ada yang berlaku otoriter, mengekang, menguasai, mengatur tanpa melihat minat dan bakat anak, apa yang menjadi keinginan mereka dan lain-lain. Ada pula orang tua yang tidak peduli karena terlalu sibuk dan hanya menyerahkan anak kepada baby sitter atau pembantunya. Selain otoriter, banyak pula orang tua yang tidak sinkron dalam mendidik. Maksud saya begini. Orang tua melarang anaknya untuk ini dan itu, tapi mereka sendiri melakukan itu di depan anaknya. Bagaimana anak mau mendengarkan nasihat orang tuanya jika orang tua tidak memberi contoh secara langsung? Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan serta keteladanan sangatlah penting dalam mendidik.

Kemarin saya sudah menyinggung bahwa dasar yang harus dipegang dalam mendidik adalah kasih. Kalaupun harus memberi hukuman, itu tetap harus dengan dasar karena kita mengasihi mereka dan demi kebaikan mereka, bukan karena kita hanya ingin menjadikan mereka sebagai pelampiasan amarah kita. Satu hal penting lainnya yang seringkali dilupakan oleh para orang tua adalah kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Ada begitu banyak orang tua yang hanya tahu memerintah tetapi hidup mereka sendiri tidaklah mencerminkan apa yang mereka ajarkan kepada si anak. Sebuah contoh kecil, jika seorang ayah mengajarkan anaknya agar jangan menyakiti teman-temannya, tetapi di sisi lain ia terus saja berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya, bagaimana mungkin si anak bisa memahami apa yang diajarkan? Kebingungan akan melanda mereka, dan mungkin juga rasa marah akan menumpuk hingga menjadi dendam. Dari apa yang saya lihat, orang-orang yang kerap berlaku kasar terhadap orang lain adalah orang-orang yang kehidupan masa kecilnya dalam rumah tangga penuh dengan kekerasan pula. Berbagai dalih dengan mudah dikeluarkan oleh orang tua hanya karena mereka lebih tua atau merasa punya hak penuh terhadap anak sedang si anak dianggap tidak tahu apa-apa bahkan seolah tidak punya perasaan. Jika orang tua berlaku salah, mereka tabu minta maaf, lantas malah mencari pembenaran perbuatan salah dan memaksakan anak untuk menerima semuanya mentah-mentah. "Saya orang tua, kamu anak. Saya berhak melakukan apapun, kamu tidak punya hak untuk protes. Saya boleh melarang sesuka saya, kamu harus nurut." Banyak orang tua yang punya prinsip 'mutlak' seperti itu, tapi sesungguhnya sikap seperti ini bukanlah gambaran yang dikehendaki Allah untuk dilakukan oleh para orang tua.

Firman Tuhan berkata "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4). Jangan membangkitkan amarah dalam hati anak-anak, didik dalam kebenaran firman Tuhan. Ini adalah dasar penting bagi para orang tua. Amarah seringkali muncul di dalam hati anak-anak lewat perasaan kecewa berkepanjangan karena seringkali sadar atau tidak kita sebagai orang tua melupakan faktor kesesuaian antara perkataan dan perbuatan kita. Itupun tidak menunjukkan sikap kita sebagai orang tua sebagai pelaku firman seperti yang diwajibkan bagi setiap kita. Ini bisa mendatangkan kebingungan bagi anak-anak kita,  dan jika terus dibiarkan atau bahkan dibarengi dengan kekerasan yang seringkali keliru diartikan sebagai sikap tegas, kebencian, dendam, kepahitan, semua ini bisa tumbuh dalam diri mereka. Apa yang kita ajarkan haruslah sesuai dengan perilaku kita. Menjadi contoh nyata merupakan keharusan bagi setiap orang tua. Bukan hanya berhenti sampai mengajarkan moral, budi pekerti dan kerohanian, tetapi kita harus pula siap untuk menjadi teladan dari itu semua. Hanya dengan demikianlah anak akan mampu menyerap semuanya dan hidup dengan keteladanan orang tuanya yang tentu akan sangat bermanfaat pada saat mereka sudah dewasa kelak.

Sebenarnya bukan hanya dalam hal mendidik anak saja, tetapi dalam segala hal kita haruslah menyamakan perkataan dan perbuatan kita, termasuk dalam hal rohani. Kita bisa berkoar-koar memiliki iman, tetapi jika gaya atau cara hidup kita tidak mencerminkan apa yang kita katakan, bagaimana mungkin orang bisa percaya? Dilihat orang rajin berdoa panjang-panjang, tetapi kita hidup dalam kecemasan, kecurigaan atau kesinisan. Rajin beribadah namun isi perkataan kita hanyalah iri hati dan hujatan. Seharusnya tidak seperti itu, karena firman Tuhan berkata iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20) bahkan mati. (ay 26). Sebelum kita mulai mendidik anak-anak kita atau menjadi terang dan garam bagi sekeliling kita, kita harus terlebih dahulu mencermati apakah diri kita sudah menggambarkan apa yang ingin kita sampaikan mengenai kebenaran.

Alkitab berulang kali menyinggung soal pentingnya mempraktekkan atau melakukan kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang telah kita baca atau dengar dalam kehidupan sehari-hari. Membaca itu baik, mendengarkan itu baik, merenungkan itu lebih baik lagi, tetapi yang lebih penting adalah melanjutkan apa yang telah kita baca, dengar dan renungkan itu dengan aplikasi nyata dalam kehidupan kita, termasuk menunjukkan sikap sesuai firman di depan anak-anak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bukan pura-pura. Dalam surat Yakobus kita bisa membaca demikian: "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:25). Sebagai orang tua, marilah kita membenahi diri untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan dan menjadi teladan bagi anak-anak kita. Berhentilah mencari pembenaran-pembenaran di hadapan mereka ketika berbuat salah, dan mari didik mereka dengan kasih, seperti halnya Tuhan mendidik kita dengan kasihNya yang sempurna. Seperti apa mereka di masa depan akan sangat tergantung dari bagaimana sikap hidup kita hari ini dan bagaimana cara kita mengajarkan mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Jadilah orang tua teladan yang mencerminkan Kristus bagi mereka.

Jangan hanya memerintah, melarang dan menegur, tapi berikan keteladanan yang baik lewat sikap kita

Tuhan Yesus Kristus memberkati...

Read More »